“Seorang kombatan ataupun perwira yang berdarah merah putih harus
memiliki keberanian. Tetapi yang terpenting adalah, seorang kombatan
harus ikhlas jika sewaktu-waktu dipanggil Tuhan ketika sedang bertugas”.
Begitu petuah yang diajarkan Letjen Ahmad Yunus Mokoginta tatkalah
mendidik anaknya Marsekal Pertama Santos Mokoginta. Petuah tersebut
syarat dengan makna heroik. Pengabdiannya yang begitu besar terhadap
bangsa sedikitnya tercermin dalam petuah tersebut. Kepribadian yang
mencerminkan keberanian membela bangsa serta ikhlas meskipun harus
mengorbankan nyawa tersebut patut diteladani.
Ahmad Yunus Mokoginta, nama yang baru saya kenal ketika menginjakkan
kaki di bangku kuliah. Nama ini begitu asing bagi anak muda yang lahir
di era-awal 1990-an seperti saya. Kalaupun ada, itupun secuil informasi
saja, bahwa beliau merupakan salah satu tokoh asal Bolaang Mongondow
yang berkiprah di kanca nasional.
Tahunya bahwa Ahmad Yunus Mokoginta merupakan orang Bolmong, ya, dari
marganya. Mudah saja, karena semua yang bermarga Mokoginta, bisa
dipastikan itu putra Bolaang Mongondow. Sama halnya ketika orang
menyebut marga, Sitompul, Hutapea, Sitohang, dll itu dari Batak. Marga
Kawilarang, Lasut, Worang, itu pasti dari Minahasa. Marga, Habibie, Uno,
Jasin, Wartabone, dll, itu dari Gorontalo.
Sekitar 3 tahun lalu, di awal-awal masa kuliah, saya mulai menelusuri
siapa Ahmad Yunus Mokoginta ini. Kalau di Bolaang Mongondow, nama
beliau biasa disebut AY Mokoginta saja. Saking sering disebut AY
Mokoginta, saya justru pernah salah kaprah, dengan menyangkah bahwa nama
beliau adalah (maaf) “Aye Mokoginta”.
Belakangan saya baru tahu, penyebutan AY Mokoginta untuk Ahmad Yunus
Mokoginta itu karena dipengaruhi budaya di Bolaang Mongondow sebagai
bentuk penghormatan. Di Bolaang Mongondow ada budaya pantangan untuk “
”
atau menyebut dengan lugas nama orang tua atau yang dituakan. Bagi
orang Bolaang Mongondow menyebut nama orang tua secara langsung
menimbulkan kesan negatif, tidak sopan. Tidak heran, dijaman saya
sekolah dulu, ketika ada seorang teman yang menyebut nama orang tua
saya, itu bisa menimbulkan perkelahian, seringkali justru berujung adu
jotos dan saling serang bogem mentah.
Di Bolaang Mongondow bagi orang yang sudah berkeluarga/menikah atau
mempunyai jabatan yang dijadikan status sosial, namanya sudah mulai
disingkat dengan mengunakan huruf depan nama saja, kemudian disusul
dengan marga. Kecuali Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Buku Nikah,
biasanya urusan yang berhubungan dengan pencatatan nama justru memakai
nama singkatan seperti ini. Sedangkan nama panggilan untuk orang yang
sudah menikah dan mempunyai anak, maka disematkan nama anaknya yang
pertama. Kalau sudah mempunyai cucu, maka disematkan namanya memakai
cucu pertama. Misalnya nama ayah saya; Djuliadi Tungkagi, biasanya di
kartu undangan sering disebut Dj. Tungkagi, karena saya anak pertama
maka nama panggilan sehari-hari ayah saya: Papa Donald. Seperti itu.
Sempat juga saya berfikir, bahwa mungkin kebiasaan seperti ini yang
membuat penulisan sejarah Bolaang Mongondow menjadi sukar untuk
direkonstruksi, atau kalaupun bisa, pastinya membutuhkan kerja yang
super-duper keras.
Kembali ke Ahmad Yunus Mokoginta, tanpa bermaksud untuk kurang sopan
dengan penyebutan nama beliau, saya kira penyebutan nama beliau dengan
lengkap akan lebih memudahkan kita untuk mengenal beliau dan seperti apa
perjuangan dan peran serta beliau dikanca nasional hingga
internasional.
Tanpa berniat untuk mengkultuskan individu – marga siapapun– saya
hanya mencoba mengungkapkan secara jujur apa saja kiprah dan karya
beliau dengan mengumpulkan berbagai informasi yang terserak di dunia
maya. Tujuannya hanya satu, agar generasi muda Bolaang Mongondow
menemukan patron untuk dijadikan teladan, serta menjadikan pemantik api
semangat dalam meneruskan pembangunan Bolaang Mongondow lebih baik
dimasa mendatang.
Ahmad Yunus Mokoginta lahir pada 28 April 1921, di Kotamobagu,
Sulawesi Utara. Kotamobagu sendiri memiliki arti Kota Baru yang
sebelumnya berada di Desa Sia, Kotamobagu Utara sekarang. Karena terjadi
gejolak dari penduduk yang menolak perampasan tanah oleh Belanda untuk
perluasan kota, maka rencana perluasan kota dipindahkan di Kotamobagu
sekarang, yang nanti terwujud pada tanggal 30 April 1907.
Beliau dilahirkan tepat dimana rasa kebangsaan dan keislaman mulai
menggeliat di Bolaang Mongondow. Hal ini pasca masuknya Syarekat Islam
pada tahun 1920, yang dibawah Maksun Lubis yang diutus langsung H.O.S.
Cokroaminoto untuk membuka cabang Syarekat Islam di Molinow, Kecamatan
Kotamobagu Barat sekarang.
Lahir dari kalangan aristokrat Bolaang Mongondow, Yunus Mokoginta
sering digambarkan sebagai orang yang tegas dan mempunyai disiplin
tinggi. Darah keturunan kerajaan Ahmad Yunus Mokoginta dapat dari
ayahnya Abraham Patra Mokoginta yang merupakan cucu sekaligus cicit raja
Bolaang Mongondow. Neneknya Bua’ Dabo adalah putri Raja Abraham Sugeha.
Sedangkan kakeknya Abo’ Mundung Mokoginta merupakan anak dari Abo’
Namug Mokoginta (Penghulu Passi) yang menikah dengan bua’ Mohondi, yang
merupakan putri Raja Jacobus Manuel Manoppo.
Di beberapa catatan, Yunus Mokoginta dituliskan sebagai sosok yang
senantiasa berbusana rapi hal yang khas bagi seorang pejabat negara dan
pejabat militer. Raut wajahnya penuh wibawa namun ramah sebagai orang
tua, serta ketika berbicara langsung tidak bertele-tele dan langsung
fokus pada masalah yang dibicarakan kemudian menguraikannya secara
sistematis.
Pada usia 5 tahun, sekitar tahun 1926, Yunus kecil dibawah ayahnya
hijrah ke Jawa. Bisa dibilang keberanian, militansi, serta kekuatan
hati Yunus Mokoginta dikemudian hari merupakan hasil didikan dan teladan
dari ayahnya, Abraham Patra Mokoginta. Ayahnya merupakan seorang Jogugu
(Perdana Menteri) Kerajaan Bolaang Mongondow di masa Raja D.C Manoppo,
yang “diasingkan” di Batavia oleh Belanda karena mendukung gerakan
Syarekat Islam di Kotamobagu.
Di masa-masa pengasingan di Batavia inilah yang menumbuhkan semangat
nasionalisme Abraham Patra Mokoginta. Kedekatannya dengan beberapa tokoh
seperti Mohammad Husni Thamrin, Douwes Dekker dan Sam Ratulangi di
Batavia inilah yang turut serta memupuk dan menyuburkan semangat
nasionalismenya. Semangat seperti ini yang kemudian diturunkan kepada
Ahmad Yunus Mokoginta.
Perjalanan pendidikan hingga karir Ahmad Yunus Mokoginta dimulai dari
AMS pada masa perang pasifik dan menjadi Kopral Kadet KMA (
)
Bandung sekitar tahun 1939, Menjadi Kapten TKR pada tahun 1945 bersama
dengan AE Kawilarang meski kemudian berbeda pandangan, Wakil Komandan
KRU X dengan pangkat Letnan Kolonel, menjadi Komandan Hijrah Divisi
Siliwangi, menjadi Komandan CPM Djawa.
Saat pendudkan Jepang dan masa-masa menjelang dan setelah Proklamasi,
terlibat dalam gerakan pemuda. Mokoginta bergerilya di Jawa Barat saat
perang Revolusi. Pernah menajdi ajudan Jenderal Urip Sumohardjo. Serta
pernah menjabat Komandan Polisi Militer Daerah Jawa, menggantikan Gatot
Soebroto (1948-1950).
Panglima Teritorium VII Let Kol, Anggota Fact Finding Commission,
Komandan SSKAD/SESKOAD Kolonel, Command and General Staff College Fort
Leavenworth Kansas USA Brigjend, Deputy Menpangad, Pangandahan Sumatera
Mayjend, Dubes Luarbiasa dan berkuasa penuh untuk Mesir,Libanon,Sudan
dan Maroko Letjend, Dirut PT. Tri Usaha Bhakti, Penggagas Forum Study
dan Komunikasi AD, Anggota Yayasan lembaga Kesadaran Berkonstitusi,
Penandatangan Petisi 50 bersama Ali Sadikin dan Jendral Polisi Hoegeng,
dkk.
Saat menjabat sebagai Komandan Tentara Tentorium di Indonesia Timur,
AY Mokoginta bersama stafnya ditangkap oleh pasukan bekas tentang KNIL
yang dilebur kedalam APRIS dibawah pimpinan Kapten Andi Azis.
Selain itu hasil nyata kerja AY Mokoginta selama bekerja di pulau
sumatra juga patut dijempol. Mokoginta menjadi penginisiator lahirnya
lembaga sosial yang mewakili kepentingan masyarakat adat di Sumatera
Barat yang diberi nama Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM).
Mokoginta juga membuat suatu konsep pembangunan sumatera secara
menyeluruh yang belakangan dikenal sebagai Plan Mokoginta. Mokinta juga
turut memprakarsai pemugaran makam Amir Hamzah yang oleh sastrawan HB
Jassin dijuluki Raja Penyair Pujangga Baru. Mokoginta wafat tahun 1984
dan dimakamkan di Taman Pahlawan Kalibata Jakarta.
Selain catatan putih dari AY Mokoginta sebagaimana yang penulis
jelaskan diatas, terdapat juga informasi terkait “catatan hitam” dari
tokoh ini selama beliau bertugas. Yang penulis maksud catatan hitam ini
sengaja diberi tanda petik sebagai penegasan subjektifitas penilaian
segelintir orang. Kalaupun apa yang dilakukan AY Mokoginta itu memang
harus disebut sebagai catatan hitam. Informasi ini sengaja penulis
hadirkan dalam catatan ini demi menjaga keberimbangan, minimal untuk
meminimalisir pengkultusan kepada tokoh yang ditulis.
Dalam catatannya Dr.Alexander Tjaniago bertajuk “67 Tahun Republik
Indonesia” disebutkan bahwa pada saat AY Mokoginta bertugas di Sumatra,
di Gayo-Aceh atas Instruksi beliau sebagai Komandan Territoroium
Sumatra, dilakukan pembunuhan besar-besaran terhadap PKI . Pada
Oktober-November1965, sejumlah 6000 Manusia ( PKI ), dan seterusnya
berjalan legalisasi pembunuhan, setiap Minggu 3000 Manusia (PKI)
dibunuh, 10 500 Tahanan PKI di Sumatra-Utara kemudian semuanya dibunuh.
40 00 Buruh Plantage Teh dan Karet Tanjungmorawa bersama keluarga
dibunuh habis, mereka PKI. ( Ann Laura Stoler, “Capitalism and
Confrontation in Sumatra’s Palantation
″, Ann Arbor 1995).
El-qudsi, Achsin.
. Tersedia pada
Tangi, Ilham Ambo.
. Makalah ini dipresentasikan di ITP International Symposium, Kyoto University Jepang, 2-6 Desember 2011.
Tjaniago, Dr.Alexander.
. Tersedia pada
Catatan kaki, Jejak yang tertinggal..Abo J A Mokoginta
Naskah asli dari "Rangkean Abo' J.A.Mokoginta" sepengetahuan saya ditulis tangan dengan huruf miring menggunakan ejaan lama dalam sebuah buku tulis tipis dan kondisinya pada waktu itu masih dapat terbaca dengan jelas hanya dipinggiran buku terlihat seperti bekas terbakar sehingga perlu disalin kembali, kebetulan pada waktu itu di rumah kami yang berada dalam kompleks pabrik es milik alamarhum L.J.Mokoginta banyak pelajar dan mahasiswa asal Bolaang Mongondow yang menyingkir ke Jakarta sesudah penyerbuan asrama "Bogani" Yogyakarta oleh orang-orang yang tidak dikenal menyusul peristiwa G 30 S/PKI, salah satunya adalah almarhum Kak Hadin Mokoginta yang oleh keluarga pada waktu itu diminta untuk menyalinnya dan setelah selesai kemudian di cetak oleh almarhum Kak Sai'un Mokoginta dalam bentuk buku saku.
* Tiga bersaudara yatim piatu seperti dimaksud dalam rangkean ini kemudian hari dikenal sebagai Djogoegoe Abram Patra Mokoginta kemoedian Panggoeloe Juga' Abraham Mokoginta dan Bua'(Inde') Banto' karena menurut cerita beliau tidak pernah menikah sehingga tidak mempunyai keturunan.....Wallahualam bi al shawab.
* Nene yang dimaksud anak Soeltan Jacoboes Manuel Manoppo dalam rangkean ini, dikenal dengan sebutan Bua' Itoy dikemudian hari setelah menikah dengan Panggoeloe Namug Mokoginta mempunyai putera Majoor Mundung Mokoginta yang menikah dengan anak Raja A.P Sugeha yaitu Bua' Dadibong Sugeha dan dari pernikahan itu lahirlah putera dan puterinya seperti tersebut diatas. Majoor Mundung Mokoginta sendiri meninggal dan dimakamkan di Menado, dikemudian hari ditahun tujuh puluhan makamnya dipindah ke tanah kelahirannya di Bolaang Mongondow oleh salah satu cucunya yaitu almarhum A.Y.Mokoginta.Soeltan Jacoboes Manuel Manoppo adalah Raja yang pertama memeluk agama Islam, sehingga sejak saat itu Agama Islam berkembang pesat diwilayah Bolaang Mongondow.
* Toean Venhuyzen, atau Anthon Cornelis Venhuyzen adalah Controleur Onder Afdeeling Bolaang Mongondow 1901
* Toean Junius atau F Junius adalah Controleur Onder Afdeeling Bolaang Mongondow (1910-1915)
* Isterikoe yang dimaksud adalah Bua' Nana C Mokoginta Manoppo
* Anak-anakoelah masih tidor, yang dimaksud pada waktu itu adalah Ismail Oeleng Juga' Mokoginta, L.iminsaoe Juga' Mokoginta, Etty Aminah Juga' Mokoginta, Manuel Juga' Mokoginta
* Saoedarakoe mengirim makan, yang dimaksud adalah Djogoegoe Abram Patra Mokoginta
Novel Dhamopolii menyunting dokumen di grup PUSTAKA BOLMONG.
Jejak yang tertinggal dari masa lalu.... berupa biography dalam bentuk rangkaian puisi Abo' Juga Abraham Mokoginta ini.....sayang jika hilang ditelan waktu atau lembaran-lembarannya habis dimakan oleh rayap yang kehilangan habitatnya.
Mengisahkan masa kecil yang kurang beruntung bersama kedua saudaranya.......yatim piatu tiga bersaudara ini kemudian hidup dalam limpahan kasih sayang nene yang ditinggal anak dan menantu namun tetap tegar untuk mendidik ketiga cucunya.....itulah yang mengawali isi rangkaian ini, yang dilanjutkan dengan cerita mengenai hal ikhwal pekerjaannya sampai akhirnya menjadi orang buangan. Rangkaian ini sendiri ditulis di tempat persinggahannya di Manado dalam perjalanan menuju tempat pembuangan di Ambon-Maluku, sedang setting seluruh kejadian dalam rangkaian ini adalah di wilayah kerajaan Bolaang Mongondow terkecuali diakhir rangkaian terjadi di wilayah Minahasa yang pada masa itu sangat kental dipengaruhi pemerintah kolonial Belanda baik dalam aspek politik, ekonomi, sosial, hukum dan keamanan.
Mudah2an rangkaian dibawah ini dapat berguna bagi siapa saja yang membaca.......terlebih lagi jika dapat memetik hikmah dari isi yang terkandung didalamnya
RANGKEAN DARI ABO' J.A. MOKOGINTA
Hotel Wilhelmina No.12 menado
Tanggal 9/10 - 1 - 1921
1. Toean dan Njonjalah sekalian
Mari membatja ini rangkean
Saja boekan sadja andekan
Saja menoetoerlah kedjadian
2. Saja menoetoerlah kedjadian
Doenja boekan boeat seorang
Saja toetoerkan dari moelanja
Sampai apa djadi sekarang
3. Saja jang toelis rangkean ini
Orang jang ada dalam sengsara
Djika ada berselisihan
Harap maafkan kepada saja
4. Saja moelaikan ini tjerita
Saja tjoetjoe Radja Soegeha
Saja lahirlah di Bolaang
Tanah jang manakoe amat tjinta
5. Tahon 1886 Tarik Masehi
15 Agoestoeslah hari ahad
Ini keteranganlah hari-hari
Kedjadian sajalah itoe saat
6. Saja boekan berkata sombong
Saja menoetoer barang jang ada
Saja beroemoer 9 tahon
Soedah tiada berpoenja Bapa
7. Mama hidoep badan sendiri
Piara kami tiga anaknja
Piara dengan soesa sekali
Karena ingatlah bangsanja
8. Berdjalan harilah dengan boelan
Mama hidoep badan sendiri
Satoe toean meminang dia
President Radja Pangkatnja Menteri
9. Saja menahan soedah terlaloe
Dari dahoeloe sampai sekarang
12 tahon djalan oemoerkoe
Mama meninggallah di Bolaang
10. Sijoh kasian katiga kami
Doea lelaki satoe perempoean
Sekarang soedah anak piatoe
Tiada orang jang mengasian
11. Nene kami anaknja Soeltan
Soeltan bernama Jacoboes Manoppo
Piara kamilah dengan soesa
Di-Bolaang dan di-Mongondou
12. Nene kamilah soedah toea
Oemoer diataslah enam poeloeh
Piara kami tiga saudara
Tiada anaklah tinggal tjoetjoe
13. Nene tinggal djoega berboedi
Kepada samalah manoesia
Menahan soesa piara kami
Ongkost saudarakoe sekolah Radja
14. Soenggoeh Toehan bersipat moerah
Kepada semoealah oemat Nabi
Kendati Nenelah soedah toea
Menoeloeng joega pada Compani
15. Boelan Djanoeari 1901
Tahon jang selaloe diingat-ingat
Toean Venhuyzen naik mongondou
Beloem djoega mendapat tempat
16. Karena Nene orang Bangsawan
Mendengar chabar apa jang djadi
Nene tiada sempat menahan
Haroes menoeloeng pada Compani
17. Toean Korompot Djogoegoe Kantana
Toean venhuyzen soeroeh dahoeloe
Boet tjahariRoemah tinggalnja
Tiada tempat meskipoen satoe
18. Toean Korompot boekannja sombong
Nene djoega jang ia tjari
Membawa chabar jang amat soesa
Compani tiada mendapat Roemah
19. Nene ada tahoe membatja
Djoega menoelis hoeroef Belanda
Serta dengan ini tjerita
Teroes menimpang berpindah Roemah
20. Teroes menimpang berpindah Roemah
Dengan halaman dikanan kiri
Boekan roemah itoe sahadja
Djoega Roemah famili-famili
21. Waktoe Compani sampai kemari
Djam sapoeloehlah pagi hari
Empat Roemah Nene memberi
Apa jang tiada ditoeloeng tjari
22. Barang jang soedah, jang soedah laloe
Boekan sengadja diseboet lagi
Menoeroet rangkean ampoenja maoe
Barang diseboet memang jang soenggoeh
23. Saja ada doea saoedara
Satoe lelaki dan perempoean
Saja jang hidoep terlaloe soesa
Menahan maloe dan kahinaan
24. Saoedara lelaki jang paling toea
Sekarang ini dalam Djawatan
Moesti mendjaga kawadjibannja
Djoega mendjagalah kemanakan
25. Sekarang dia pangkat Djogoegoe
Nama Manteri di-Karadjaan
Boekan main banjak tasiboe
Dengan segala goda2-an
26. Saja terangkan ini tjerita
Saja pandjangkan rangkean ini
Bagaimana djadilah dirinja beta
Oentoeng nasibkoe djadi bagini
27. Saja ada sekolah Melajoe
Sekolah Goebernemenlah di Manado
Saja poelang lihat nenekoe
Jang soedah toealah di-Mongondou
28. Tahon 1901 lah saja datang
Saja bermalamlah di-Langagon
Bangon siang saja berdjalan
Riki toean Venhuyzen di Los Lobong
29. Serta saja sampai disitoe
Seorang keloear bitjara Melajoe
Serta berkata Rain namakoe
Marsaoleh Bolang-Itanglah djawatankoe
30. Toean Marsaoleh Rain Pontoh
Badannja ketjil koemisnja pandjang
Soedah panggillah saja maso
Dioendjoekannja pada Bangsawan
31. Saja sadja tinggal berdiri
Toean Venhuyzen berkata-kata
Saja teroes berdjalan moedik
Chabar Companilah soedah ada
32. Seperti saja soedah rangkekan
Nenekoe soedah terlaloe toea
Saja tiada boleh tinggalkan
Boeat kombali masok sekolah
33. Saja sekaranglah di-Mongondou
Moesti djoega mentjari makan
Saja berdagang bertibo-tibo
Di-Doemoga dan Kinolontagan
34. Kinolontagan dengan Doemoga
Tempat soenji gelap goelita
Saja tinggal bertahan lama
Menahan hidoep dengan siksa
35. Saja tinggal sadja berdiam
Menahan soesa di penghidoepan
Tiada lain jang koekerdjakan
Membeli deamar mendjoeal barang
36. Mendjoeal damar sepoeloeh roepiah
Haganja moerah sekali
Kalaoe hendak mendjoeal dia
Dengan rakit mengilir kali
37. Kali Doemoga berbatoe-batoe Tempat djalan hilir gotjepa
Sementara didjalan itoe
Njawa bernanti sadja koetika
38. Saja empat tahon disini
Saja tjerita sadja begitoe
Saja mengilir djoega sendiri
Bawa gotjepa di ajer itoe
39. Satoe harilah soedah petang
Saja ada bekin gotjepa
Saja melihat seorang datang
Membawa soerat boeat Beta
40. Soerat diisi didalam bako
Dalam popodji ditempat roko
Lantas koeboekalah soerat itoe
Memangil sajalah ka Mongondou
41. Memanggil sajalah ka Mongondou
Memanggil dengan amat siladjoe
Saja sampai harinja beso
Mendjadi Wakil Majoor Cadato
42. Saja heran badan sendiri
Tentoenja ada setiap hari
Tempat jang soetji saja mentjari
Pangkat datang djoega kemari
43. Saja mendjabat djawatan itoe
Saja ada terlaloe moeda
Pada dewasa waktoenja itoe
19 tahon oemoernja soedah
44. Saja memangko djawatan itoe
Kerdja dengan segenap hati
Salama dalamm djawatan itoe
Saja kerdja di pihak Pasi
45. Satoe tahon soedah berdjalan
Saja memangko itoe djawatan
Sedang njata soenggoepon paham
Mendapat Besluit dan ditetapkan
46. Permoelaan tahon katiga
Saat jang tiada dinanti-nanti
Kami ada empat Kapala
Rame-rame dapat berenti
47. Kamoedianlah satoe boelan
Kandjeng Resident memanggil oelang
Kedoea kami dapat djandjian
Boleh lagi diangkat oelang
48. Apa sebab djadi bagitoe
Baik saja djangan oeraikan
Karena tempat boekan disitoe
Sadja djalannja ini rangkean
49. Saja sekarang tiada pangkat
Moelai kombali mentjari hambak
Asal sadja mendapat makan
Bertibo-tibo membeli rotan
50. Pekerdjaan itoe tiada karoean
Dimana tempat saja pergi
Sekarang soedah pindah halaman
Masok bersewah di Goeroepahi
51. Di Goeroepahi saja bekerdja
Satoe tahon ampoenja lama
Siang dan malam didalam tanah
Saboelan gadji lima poeloeh rupiah
52. Selama saja kerdja disitoe
Kerdjanja berat tiada tentoe
Tjahari koeli bawa kasitoe
Masok di loebang membakar batoe
53. Kemoedian tiada tahan
Saja rasa terlaloe berat
Saja pindah pentjaharian
Mentjari koeli si orang Arab
54. Salama saja kerdjakan ini
Satoe oranglah satoe ringgi
Satoe boelan 10 hari
Saratoes orang saja dapati
55. Beberapa boelan saja berdjalan
Togid, Molobog dengan Noeangan
Sakoenjung-koenjoeng datang chabaran
Toean Joenius baharoe datang
56. Boelan December pertama-tama
Saja diroemah Kinompol Walang
Datang oranglah naik koeda
Serahkan satoe soerat panggilan
57. Roemahnja Kinompol waktoe itoe
Ada ditengah negeri Molobog
Saja membatjalah soerat itoe
Lantas berangkat terlaloe takot
58. Saja berdjalan menoenggang koeda
Dari malamlah sampai pagi
Saja berdjalan dengan sangsara
Sampai diroemahlah tengah hari
59. Sampai diroemahlah tengah hari
Nene ada di Gandaria
Serta lihat saja kemari
Nene soedah amat bersoeka
60. Nene soedah amat bersoeka
Serta Nene teroes membilang
Saja soedah diangkat poelah
Mendjadi Majoorlah di Bolaang
61. Saja mendengar chabar jang soenggoe
Saja bersoekalah boekan patoet
Saja menghadap toean Padoeka
Bilang tempatkoe Majoor di Sangkoeb
62. Bilang tempatkoe Majoor di Sangkoeb
Saja sadja tinggal berdiam
Dapat perintah berangkat teroes
Moesti kerdjalah di Bolaang
63. Moesti kerdjalah di Bolaang
Pagi-pagi teroes berdjalan
Toean Junius ada di djalan
Antara Iniboeng dengan Sioekan
64. Antara Iniboeng dengan Sioekan
Djalan sudah dibage-bage
Saja singgah berdjabat tangan
Serta mengoetjap terima kaseh
65. Serta mengoetjap terima kaseh
Toean Junius beri nasehat
Saja tiada berkata lagi
Berangkat teroes sampaikan niat
66. Saja sampailah di Bolaang
Tinggal di Roemah sama sangadi
Saja mendjoendjoeng ini djawatan
Dengan amat berhati-hati
67. Salama dengan djawatan itoe
Saja kerdja mati-matian
Karena ingat perkara maloe
Dengan tanahlah Kadjadian
68. Dengan tanahlah Kadjadian
Tanah ajer toempah darahkoe
Kandati dengan banjak rintangan
Pekerdjaan mendapat madjoe
69. Kandati dengan banjak rintangan
Saja bersabar kerdjakan teroes
Doea tahonlah dibelakang
Saja dipoedji toean Junius
70. Toean Junius soedah merasa
Tentoe Padoeka soedah bareken
Teroes djandjikan kepada saja
f.200,- oewang porsen
71. Ini wanglah doea ratoes
Saja selalu ada bareken
Kemoedian berapa lama
Diserahkanlah toean Vischer
72. Kemoedianlah satoe boelan
Dari saja didjandji oewang
Saja dipindah dari Bolaang
Mendjadi Majoor di Kopandakan
73. Di Kopandakan banjak Mesehi
Saja bertinggallah satoe tahon
Saja memboeat doea negeri
Sawah-sawah dan dodokoe gantoeng
74. Satoe tahon soedah berdjalan
Saja tinggal di Kopandakan
Sekoenjoeng-koenjoeng datang atoeran
Saja dipindah poelang Bolaang
75. Saja dipindah poelang Bolaang
Isterikoe bersoeka soenggoe
Saja bekerdja siang dan malam
Sampai diangkat djadi Penghoeloe
76. Saja sekarang pangkat Penghoeloe
Siang malam saja berdjalan
Boeat kerdjakan apa jang perloe
Bagi goena semoea orang
77. Saja kerdja di djalan Lolak
Antara Mojambak dengan Laboean
Serta djalanlah soedah siap
Saja dipindahlah ke Lolajan
78. Baroe berapa hari disitoe
Keloear poelah atoeran baroe
Saja dengan pangkat Penghoeloe
Boeka Doemoga District jang baroe
79. Di Doemoga saja bekerdja
Toedjoeh boelan ampoenja lama
Djalan-djalan baharoe diboeka
Saja kembali mendapat pindah
80. Saja ada barang patoedjoe
Kinolontagan negeri jang baharoe
Orang Doemoga pindah disitoe
Goena kemoedian mendjadi madjoe
81. Ini ingatan kepada saja
Pada madjoekan tanah Doemoga
Tetapi tiada riki kerdja
Karena saja soedah dipindah
82. Saja dipindah tiada karoean
Dimana tempat jang ditoendjoekan
Sekarang poelang lagi Bolaang
District jang soesah diperintahkan
83. Maksoed saja boeat Doemoga
Pada bertahon mendjadi goena
Toean Mocodompit jang ganti saja
Soedah teroeskan itoe semoea
84. Sekarang saja poelang Bolaang
Berangkat denganlah roemah tangga
Disana sajalah ditetapkan
Sampai dihari dapat tjelaka
85. Saja berangkat dari Doemoga
Tiga hari sampe Bolaang
Itoe tahon terlaloe soesa
Segenap negerilah kalaparan
86. Waktoenjalah saja sampai
Pada tempo angin salatan
Saja berdjalanlah rame-rame
Mengoeroes kebon dioetan-oetan
87. Mengoeroes kebon dioetaoetan Berdjalan kaki dan naik koeda
Dihoeloe Sangkoeb saja berdjalan
DiOeto' denganlah Sinagkija'
88. Djika saja djalan Coemissie
Saja tiada memilih tempat
Dimana negeri jang saja pergi
Kebon dahoeloe jang saja adjak
89. Salama dalam itoe waktoe
Saja berdjaga terlaloe amat
Sekoenjoeng-koenjoeng datang godaan
Tjilaka diri dengan sakidjap
90. Sekarang ini saja tambahkan
Pada menjamboeng ini rangkean
Tjelaka apa jang soedah datang
Atas dirikoe sampai sekarang
91. Saja ada di negeri Tadoij
Di Roemahkoe di Balai-balai
Doea toeanlah naik Bendy
Serta sampai doea sengadi
92. Saja lihatlah kedoeanja
Manoppo denganlah Gonibala
Sengadi-sengadi asal bangsa
Membawa soerat toean Padoeka
93. Hari sorelah empat djoeli
Kedoeanja berdjalan dengan siladjoe
Saja membatjalah soerat itoe
Saja berhadap hari ketoedjoeh
94. Saja berhadap hari ketoedjoeh
Pagi-pagi djam sambilang
Saja berangkat dengan siladjoe
Dari roemahkoelah amper siang
95. Dari roemahkoelah amper siang
Didjalan ada memake obor
Soepaja hati tiada gagawang
Anak-anakoelah masi tidor
96. Anak-anakoelah masi tidor
Isterikoe sadja jang ada bangon
Berdjalan dengan tiada tempo
Berangkat dengan hati jang antjor
97. Ingatkan apa jang akan djadi
Auto berdjalan tiada ladjoe
Djam enamlah pagi-pagi
Sampai dengan hati tasiboe
98. Djam enam waktoenja soeboeh
Orang-oranglah belom bangon
Sampai diroemahlah saoedarakoe
Datang famili di Kotobangon
99. Soedah lepas djam delapan
Saoedarakoe memberi makan
Saja sadja memakan telor
Lantas berangkat pigi di kantoor
100. Lagi sedikit djam sambilang
Saja sampai dimoeka kantoor
Padoeka datang menjoeroeh bilang
Saja bernanti doeloe di kantoor
101. Saja doedoek doeloe sedikit
Dimoeka kantoor ada kadera
Saja lihat semoea Perdjoerit
Keloear bares di djalan rajah
102. Keloear bares di djalan rajah
Saja ada doedoek sendiri
Tiada lama datang Djaksa
Dengan Commandant teroes kemari
103. Serta sampai Djaksa mengator
Saja masok di kamar kantoor
Serta saja ada di dalam
Commandant memeriksalah sendjatan
104. Commandant memeriksalah sendjatan
Saja diam tinggal berdiri
Tiada ada jang kedapatan
Dimana saja ampoenja diri
105. Dimana saja ampoenja diri
Hanja tempat roko sahadja
Dari sitoe berdjalan kami
Menoedjoe roemah toean Padoeka
106. Setelah sampai dimoeka tangga
Dimoeka pintoe di gandaria
Katiga kami naik sesama
Boeat menghadap toean Padoeka
107. Padoeka pada waktoenja itoe
Memakai poetih dengan tjepatoe
Dimoekanja medja dan boekoe-boekoe
Lantas tetapkanlah saja doedoe
108. Pada waktoe itoe koetika
Padoeka boekan sendiri sadja
Doedoek menghadaplah Boekoe titah
Sesama toean Padoeka Radja
109. Sesama toean Padoeka Radja
Saja doedoek atas koeroesi
Djaksa ada disitoe djoega
Commandant berdiri sabla kiri
110. Padoeka moelai berkata-kata
Mengambil soerat diatas medja
Memberi Besluit lepaskan saja
Serta menoetoerlah perkara
111. Sekarang saja orang tahanan
Saja doedoek tinggal berdiam
Padoeka lantas beri atoeran
Menghentar saja dalam toetoepan
112. Saja mendengar atoeran ini
Saja djoega lantas berdiri
Commandant dikanan Djaksa dikiri
Lantas berdjalan katiga kami
113. Padoeka ini orang bangsawang
Oemoer moeda pangkatnya tinggi Bitjara dengan menoenjoek sajang
Kepada saja ampoenja diri
114. Setengah sapoeloeh sakira-kira
Saja dimasokan dalam pendjara
Ditempat Civir disabla moeka
Disitoe saja diberi tampa
115. Sekarang saja dalam toetoepan
Bergantong sadja kepada Toehan Menoenggoe sadja ada poetoesan
Dimana tempat saja diboeang
116. Saja tiada merasa gadoh
Seperti mimpi didalam sono
Saja kaget mendengar auto
Tinggi datang dari Menado
117. Itoe djam setengah tiga
Lima djam saja disitoe
Tiada lama datang Djaksa
Keloearkan sajalah dari sitoe
118. Keloearkan sajalah dari sitoe
Adampe djoegalah ada datang
Menoeroet perentah Padoeka itoe
Saja tinggal di Persinggrahan
119. Saja keloear dengan Djaksa
Berdjalan sadjalah ngale-ngale
Saja berhadap lagi Padoeka
Serta memberi terima kaseh
120. Lima djam dalam pendjara
Saoedarakoe mengirim makan
Saja tiada santapkan dia
Laparpoen djoega tiada datang
121. Laparpoen djoega tiada datang
Saja tiada rasa tasiboe
Karena apa jang kadjadian
Toehan jang tinggi mengatoer itoe
122. Saja sekarang di Persinggrahan
Roemah adalah gandaria
Ditempat itoe saja ditahan
Siang dan malam Perdjoerit djaga
123. Siang dan malam Perdjoerit djaga
Dipintoe moeka dengan belakang
Oleh karoenia toean Padoeka
Diloeaskan famili datang
124. Tiga hari dan tiga malam
Saja ditahan ditempat itoe
Dengan keloeasan toean Padoeka
Ratoes famili datang bertemoe
125. Ratoes famili datang bertemoe
Dari Passi dengan Lolajan
Membawaoewang berpoeloe-poeloe Dengan roepa-roepa makanan
126. Saja doedoek berdiam soedah
Djam sambilang sakira-kira
Djaksa datang memanggil saja
Behadap di kantoor pada Padoeka
127. Saja berhadap djam sapoeloeh
Djaksa datang memanggil oelang
Saja berhadaplah hari itoe
Padoeka periksa lebar dan panjang
128. Padoeka periksa lebar dan panjang
Sampai semoealah soedah abis
Saja kombali ke Persinggrahan
Kedoea hari doedoek Madjalis
129. Kedoea hari doedoek Madjalis
Di kantoor Afdeeling Kotamobagoe
Saja diperiksa lagi sedikit
Sampai djamlah poekoel satoe
130. Sampai djamlah poekoel satoe
Saja ditanja oleh anggota
Saja terangkan apa jang soenggoe
Hal toedoehan kepada beta
131. Hal toedoehan kepada beta
Semoea saja ada terangkan
Nomor satoe perkara soempa
Nomor doea perkara oewang
132. Hal toedoehan sampai disini
Baik saja djangan terangkan
Anggota Madjalis semoea ahli
Sampai djatoehkan itoe poetoesan
133. Djam satoelah tengah hari
Saja disoeroeh keloear dahoeloe
Satoe djam dipanggil lagi
Padoeka lantas memberi tahoe
134. Padoeka lantas memberi tahoe
Apa timbangan dari semoea
Saja dihoekoem dalam toeroengkoe
Tiga tahon ampoenja lama
135. Waktoe saja mendengar itoe
Saja seperti terbajang-bajang
Apa jang djadi sesal hatikoe
Kabadjikankoe di Karadjaan
136. Kabadjikankoe di Karadjaan
Seperti saja toelis diatas
Empatblas tahon saja menahan
Gadji jang ketjil dan tiada tetap
137. Saja djoega pangkat Mantri
Kepala District jang pertama
Doeloe-doeloe selalu dipoedji
Sekarang terima anoegerahnja
138. Sesoedah Padoeka abis membilang
Apa Madjalis poenja poetoesan
Padoeka djoega teroes loeaskan
Menoenggang koeda sepandjang djalan
139. Menoenggang koeda sepandjang djalan
Ikot di djalan Poopo Mongondou
Padoeka djoega soedah terangkan
Di Motoling Djaksalah dengan auto
140. Sesoedah Padoeka abis riwajat
Djam doealah soedah lepas
Teroes titahkan haroes berangkat
Pada djam dan itoe saat
141. Sesoedah abis itoe poetoesan
Padoeka lantas poelang ke roemah
Saja dan Commandant bersama-sama
Boeat lengkapkan koeda semoea
142. Boeat lengkapkan koeda semoea
Perdjoerit-perdjoerit ada di djalan
Salama menoenggoe pada Padoeka
Saja dan Commandant ke Persinggrahan
143. Saja dan Commandant ke Persinggrahan Doedoek sedikit atas kadera
Saja kaget seorang datang
Pelok dikaki kepada beta
144. Pelok dikaki kepada beta
Sambil menangis meraoeng raoeng
Saja lihat siapa dia
Oleng Mocodompit sengadi Ajong
145. Oleng Mocodompit sengadi Ajong
Badannja ketjil koelitnja poetih
Dia ini jang angkat soempa
Kemoedian djadi saksi
146. Samantara Oleng menangis
Saja ada memboedjoek dia
Kaget datang satoe Perdjoerit
Padoeka soeroeh memanggil saja
147. Padoeka soeroeh memanggil saja
Djoega sesama toean Commandant
Kami lantas menoenggang koeda
Sama-sama teroes berdjalan
148. Sama-sama teroes berdjalan
Padoeka djoega ada sesama
Perdjoerit dimoeka dan dibelakang
Semoea ditjabutlah sendjatan
149. Semoea ditjabutlah sendjatan
Ikot di Biga' dengan Pontodon
Menoeroet titah toean Padoeka
Semoea snaphan diisi pathron
150. Sementara kami berdjalan
Lewat Pontodon dengan Pangian
Semoea orang ada di djalan
Menangis dengan memelok tangan
151. Menangis dengan memelok tangan
Saja tiada mengerti lagi
Tawakal sadja kepada Toehan
Berharap keadilan dari Compani
152. Berharap keadilan dari Compani
Padoeka djoega soedah membilang
Lihat tangisan dari famili
Hati antjor seperti garam
153. Djam tiga sapoeloeh djuli
Kami sampai diliwat Poopo
Padoeka lantas poelang kembali
Kami berdjalan membawa sido
154. Waktoe bertjere dengan Padoeka
Beliaoe toendjoek merasa berhati sajang
Memberi tangan kepada saja
Ajer matanja berlinang-linang
155. Ajer matanja berlinang-linang
Laloe idzinkan kepada saja
Bertjiom dengan berdjabat tangan
Kepada famili jang hentar saja
156. Kepada famili jang hentar saja
Kami heran moelai memboekit
Lain Perdjoerit dengan Padoeka
Sembilan dan gersant jang hentar saja
157. Sepoeloeh perdjoerit sesama saja
Lain dimoeka dan dibelakang
Kami sampai diatas boekit
Betoel soedah mendapat malam
158. Betoel soedah mendapat malam
Soedah amat gelap goelita
Empat sido teroes dipasang
Saja berdjalan ditengah-tengah
159. Saja berdjalan ditengah-tengah
Dengan menoenggang koeda jang poetih
Menoeroet titah toean Padoeka
Moesti sampai di negeri Toemani
160. Moesti sampai dinegeri Toemani
Saja sadja orang tahanan
Sampai di Los ditepi kali
Soedah lepas djam delapan
161. Soedah lepas djam delapan
Kami sampai di Los itoe
Gersant bilang berhenti makan
Serta tidor sadja disitoe
162. Serta tidor sadja disitoe
Kami rikilah ada orang
Serta dipanggil menjoeroeh bangon
Empat famili di Kotobangon
163. Empat famili di Kotobangon
Hadji dengan tiga temannja
Soedah djalan lebih dahoeloe
Membawa makanan boeat sahaja
164. Kami teroes makan disitoe
Gersant mengator orang mendjaga
Djam empat kami berlaloe
Meliwat djalan jang amat soesa
165. Meliwat djalan jang amat soesa
Goenoeng petje dan batoe batoe
Masi amat gelap goelita
Berdjalan dengan memake lampoe
166. Berdjalan dengan memake lampoe
Meliwati toebir jang amat dalam
Tjelaka njawa beloem disitoe
Sampai tiada apa jang koerang
167. Sampai tiada apa jang koerang
Saja tinggal diatas koeda
Djam toedjoe memboeka siang
Kami sampai di djalan rata
168. Kami sampai di djalan rata
Tempat djorami jang soedah terang
Kami berdjalan tiada lama
Berdjoempalah dengan banjak orang
169. Berdjoempalah dengan banjak orang
Berdjalan kaki dan naik koeda
Semoea ada dengan sendjata
Antaranja itoe kepala-kepala
170. Sekarang sampai di negeri Motoling
Negeri ramai banjak orangnja
Kami lantas mentjari tahoe
Dimana toean Djaksa dengan oppasnja
171. Antaranja itoe kepala-kepala
Saja lihati sadja di kantjing
Kami berdjalan bersama-sama
Sampai di tengah negeri Motoling
172. Sekarang sampai di negeri Motoling
Negeri ramai banjak orangnja
Kami lantas mentjari tahoe
Dimana toean Djaksa dengan oppasnja
173. Dimana toean Djaksa dengan oppasnja
Kami teroes mendapat chabar
Toean Djaksa dengan oppasnja
Diroemah toeanlah Hm. Besar
174. Toean Hm. Besar nama Warokka
Toean baik dengan boediman
Serta lihat kepada saja
Dipanggil naik dikaseh makan
175. Toean Wenas pangkatnja Djaksa
Orang moeda asal Bangsawan
Kami berangkat itoe koetika
Dengan autolah ke Amoerang
176. Djam limalah di Amoerang
Kami pindah dilain auto
Sesoedah itoe teroes berdjalan
Djam toedjoe sampai Menado
Djakarta, 3 Djuli 1966
Disalin sesuai dengan aslinja
Jang menjalin :
( Hadin Mokoginta )
Ditjetak dan dikoreksi oleh :
Sai'un Mokoginta
PERTJETAKAN SITAYA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar