Rabu, 26 Oktober 2016

Renungan



ESAI-ESAI POGOGUTAT DIA’ KO UTAT


CATATAN REALITAS

“ kamu punya ruang dalam hatimu untuk merasakan hati kaum dhuafa , sehingga hatimu sedih , getir , terimpit seribu gunung , sementara orang-orang pandai sibuk dengan kesibukan mereka , orang kaya sibuk menghisab kekayaan dan orang alim sibuk dengan kesyaduhannya. Tuhan tidak bertanya padamu apakah kamu mampu menolong kaum dhuafa atau tidak , tapi Tuhan melihat apakah kamu mencintai orang lemah atau tidak”



POGOGUTAT DIA’ KO UTAT




Siapa sih yang tidak mau hidup dalam kebaikan, kasih sayang dan saling merindukan. Harkat dan martabat manusia selaku mahkluk sosial adalah mahluk yang saling membutuhkan satu sama lain (Simbiosis) semua pasti butuh ketenangan, menyayangi dan disayangi oleh alam sekitar kita. Sebagai mahluk sosial yang mendiami suatu tempat tentunya kita tidak lepas dari kearifan local yang dimaksud adalah budaya atau icon suatu daerah, setiap nilai-nilai daerah yang tumbuh pada waktu itu, tidak muncul dengan sendirinya seperti membalikkan telapak tangan atau cukup dengan mengucapkan abra kadabra seperti dalam peragaan acrobat kemudian tumbuh begitu saja, tentunya tidak seperti itu. Namun munculnya suatu proses budaya, merupakan suatu proses alamiah. Budaya adalah hasil karya masyarakat guna membedakan antara masyarkat satu dengan lainnya atau cirri khas masyarakat suatu daerah yang dijadikan sebagai landasan kehidupan sehari-hari, contohnya dalam kehidupan masyarakat TOTABUAN budaya “Pogogutat” artinya persaudaraan yang tertanam sejak dahulu dan ini merupakan salah satu dari banyak budaya peninggalan nenek moyang yang masih tersisa di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang plural. Tentunya dengan demikian budaya sengaja dilahirkan oleh para pendahulu dengan satu harapan kelak dikemudian hari anak cucu atau komunitas suatu masyarakat punya cirri khas tersendiri serta merupakan symbol kekeluargaan yang melekat secara ikatan emosional pada diri setiap individu dan menjadi nilai dasar dalam diri seorang. Namun seiring waktu berjalan, dari masa ke masa lamban laun nilai-nilai budaya perlahan memudar dalam kehidupan. Misalnya dalam masyarakat Bolaang Mongondow dikenal dengan kultur pogogutat yaitu budaya kekeluargaan, dimana sikap dan kesadaran gotong royong yang tinggi mewarnai sendi-sendi kehidupan masyarakat TOTABUAN pada umumnya karena selain budaya POGOGUTAT masyarakat Bolaang Mongondow dibekali dengan prinsip dasar Mototompiaan, Mototabian, bo Mototanoban sebagai pandangan hidup.
Pogogutat dibarengi dengan prinsip dasar Mototompiaan, Mototabian, Mototanoban merupakan suatu kesempurnaan kultur yang mengandung nilai-nilai kemanusiaan Humanis dan ISLAMI artinya bahwa adat pogogutat (persaudaraan) serta MOTO BOL-MONG adalah salah satu inti dari ajaran ISLAM yaitu hubungan sesama manusia (Habluminanas). Jadi sebelum Islam dan agama-agama lain masuk di daerah Bolaang Mongondow sudah jauh sebelumnya mengamalkan nilai-nilai ISLAMI, secara tidak langsung mereka sudah beragama tetapi belum dikatan ISLAM atau agama lain melainkan sebuah Hidayah (Tauhid) yaitu petunjuk yang turun dari langit melalui perantara para kekasih Allah atau wali Allah dimuka bumi.
Jika adat POGOGUTAT dan MOTO BOL-MONG mengandung nilai-nilai kemanusiaan (humanis) dan islami yang sempat menjadi gaya hidup serta semboyan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Mongondow dahulu kala, maka pertanyaannya siapakah mereka sebenarnya yang menjadi wakil TUHAN dimuka bumi TOTABUAN untuk menyebarkan paham atau ahlak kemanusiaan dan Islami di tengah-tengah kehidupan masyarakat dahulu yang belum pernah terjamah pendidikan ? Tidak lain mereka adalah para leluhur kita yaitu BOGANI TOTABUAN, maka dengan ini penulis berpendapat bahwa BOGANI yang kita kenal selama ini adalah kekasih ALLAH atau wali ALLAH di bumi TOTABUAN artinya dengan alasan bahwa ditengah kehidupan bahwa masyarakat dahulu yang belum pernah terjamah pendidikan formal maka hadirlah sosok seorang yang membawa buah pikir dapat menyelamatkan dan kedamaian umat manusia khususnya masyarakat Bolaang Mongondow. Hal ini menandakan bahwa dari sekian masyarakat pada waktu itu tentunya tidaklah semuanya diangkat menjadi pembawa risallah, diantara komunitas atau kelompok itu pasti ada salah stau diantara mereka yang dianggap pantas dan mampu memberikan pencerahan yaitu BOGANI.
Namun meskipun mulianya budaya pogogutat dan Moto Bolaang Mongondow yang diwariskan oleh Allah SWT, Bogani kepada kita semua, tanpa ditopang kesadaran intelektual dan kesadaran spiritual maka sesungguhnya kita tidak akan pernah mencapai atau menjiwai nilai-nilai kemanusiaan yang luhur itu. Artinya bahwa masyarakat Bolaang Mongondow itu harus punya kecerdasan intelektual dan kecerdasan spiritual agar mampu memujudkan budaya Pogogutat dan melaksanakan semboyan hidup Moto-tompiaan, Moto-tabian, Bo Moto-tanoban karena sesungguhnya inilah hakikat atau sebenarnya perubahan yang selama ini dicita-citakan yaitu perubahan yang dimulai dari dalam diri (Islah Diri) maju dan mundurnya suatu bangsa pada dasarnya diawali dengan pembangunan diri atau pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) maka konsep Pogogutat, dan Mototompiaan, Mototabian, Mototanoban, adalah salah satu jalan yang pantas bagi masyarakat Totabuan untuk mengawali pembangunan fisik (material) menuju Bolaang Mongondow maju mandiri dan berwibawa dimata dunia. Sebab bagaimanapun lajunya pembangunan suatu daerah jika masih banyak masyarakat yang kelaparan, putus sekolah, dan kemaksiatan meraja lela disana-sini maka sesungguhnya kita sama halnya tidak pernah melakukan perubahan dan telah keluar dari warga Bolaang Mongondow karena gagal memegang amanah leluhur TOTABUAN, Bolaang Mongondow adalah salah satu daerah yang subur, dari tanah yang sejenis bisah menghasilkan ribuan hasil bumi tapi ironisnya masi banyak kelaparan ditengah-tengah penggalan surga, masi banyak yang putus sekolah ditengah-tengah hamparan emas dan masi banyak kemaksiatan ditengah-tengah para ulama (pendeta) dan cendikia. Ini adalah potret kehidupan Bolaang Mongondow, dimana sikaya perpesta fora dan simiskin menjerit hidup memintah dan menerima, banyak yang putus sekolah sementara yang lain beli mobil mewah dan banyak kemaksiatan sementara Ulama hanya tidur diwaktu shalat. Inilah yang saya maksud POGOGUTAT DIA’ KO UTAT tidak ada lagi rasa kepedulian dan kasih sayang terhadap sesama yang ada hanyalah kepentingan pribadi.
Pogogutat dia’ ko utat artinya persaudaraan tetapi tidak pernah melakukan hal-hal yang menunjukkan adanya ikatan persaudaraan, hal ini jelas dalam tatanan kehidupan masyarakat dewasa ini. Sikaya makin kaya dan simiskin makin miskin padahal adalah tetangga sikaya, si penguasa makin berkuasa sementara yang dikuasai adalah rakyatnya dan ulama sibuk memikirkan surga sementara umat fakir dalam spiritual. Inikah yang dinamakan POGOGUTAT “ MOTOTOMPIAAN, MOTOTABIAN, BO MOTOTANOBAN ’’ ….. ?


Naonda don ka’asi in Pogogutat, Mototompiaan, Mototabian , Bo Mototanoban naton komintan ?





N E G E R I

YANG TERLUPAKAN




BOLAANG MONGONDOW RAYA adalah RAKSASA besar yang sedang tidur ,
Tapi sayang RAKSASA itu terlalu lama tidur karna sengaja dinina bobokan
Dan dihipnotis oleh keadaan
Mungkin sudah saatnya RAKSASA ini bangun untuk kembali
Membakar semangat generasi-generasi penerus
Sadaha yambat dan Sangadi eman

TUNDUK TERTINDAS BANGKIT MELAWAN
KARNA DIAM ADALAH SEBUAH PENGHIANATAN
YANG TIDAK ADA DALAM SEJARAH PERJUANGAN KAUM MUDA INDONESIA
LAWAN LAWAN LAWAN DAN MENANG
HIDUP ADALAH PERJUANGAN  , TIAP-TIAP PERJUANGAN MEMERLUKAN
PENGORBANAN
DAN TIAP-TIAP PENGORBANAN MEMBAWA
KEBAHAGIAAN
Mungkin utat-utat masi ingat kalimat itu dan sudah saatnya pula kalimat itu
Kembali di GAUNGKAN di NEGERI
TERKOYAK ( TOTABUAN) ini
MARI BUNG REBUT KEMBALI




Salam Motobatu’

Dari Putra Bol-Mong (Mukti Ali Mokogimta)




















K e r e s a h a n



Kenapa begitu terasa jauh dirimu TUHAN jika setiap pemikir-pemikir dari zaman pangan yahudi , kristen ,Islam, filosof, mistikus , reformis memperkenalkan diri-Mu melalui teori-teori dari mereka begitu membuatku keliru memahami tentang keberadaan-Mu
Memahami diri-Mu dengan caraku mungkin juga salah akal perasaan dan jiwa seperti terbatasi oleh kelemahan diriku yang begitu kerdil dihadapan-Mu setiap indraku tak mampu menangkap keberadaan-Mu kenapa Tuhan apa engkau begitu indah , perkasa , sempurnah , melalui prasangka dan gagasan manusia hingga Engkau begit terbatasi oleh kalimat manusia yang tak bermakna setiap gerakku nafasku seperti robot yang diciptakan manusia lalu diatur sesuka diri-Mu yang menguasai hidup dan matiku 
Jika ku berbuat salah atau berprasangka buruk dan baik begitu juga diri-Mu berarti begitukah diri-Mu bersikap tak konsisten seperti manusia yang bersikap seenaknya 
Engkau dalam pemikiran manusia seperti pemahaman sifatnya jika manusia marah Engkau juga bisa marah , apa bedahya Engkau dengan yang Engkau ciptakan , aku tak berprasangka buruk tentang diri-Mu , aku tak berpikir Engkau seperti cara manusia bertindak , aku tak mau menyamakan engkau seperti yang telah manusia persepsikan dalam pemahaman akal, hati , san jiwa manusia
Akupun tak mau berfikir seperti orang-orang Atheisme yang menyangkal keberadaan-Mu dan kehadiran-Mu dalam hidup. Manusia mereka hanya berprasangka buruk tentang diri-Mu tentang apa yang mereka tangkap melalui pemahaman indra mereka yang terbatas.

Jika keyakinan tentang diri-Mu salah , biarkan aku tak peduli Tuhan bahkan , soal neraka , surga , siksa kubur , hari pembangkitan adalah suatu kepastian bukan itu yang aku gelisahkan namun kekeliruan mengartikan dan memaknai tentang diri-Mu yang salah menafsirkan makna yang sesungguhnya akan menjauhkan diriku dari diri-Mu yang sesungguhnya






PENERANG JALAN PENGEMBARA



C A H A Y A 
di NEGERI rantau 

Bangunlah
Bangkitlah
Jangan menyerah 
Jangan putus asa
Semangat
Sabar
Berdo’alah
Minta kepada-NyA


(22-02-2016)

“ Tidak ada yang bisa kembali ke masa lalu untuk memulai sesuatu yang baru , tetapi kita semua bisa memulai untuk sesuatu yang baru sekarang ,
Untuk memperoleh sebuah kesimpulan baru”

JANGAN BERKATA AKU TIDAK PUNYA WAKTU

“ sekarang mulailah untuk melengkapi lukisan barumu. Pikirkan tentang lukisan besar yang akan kamu lihat di hari trakhir hidupmu . pikirkan betapa mengerikannya jika suatu bagian saja dari lukisan itu hilang karena apa yang telah kamu lakukan hari ini ”

WAKTU ADALAH PINTU

Aku pernah mendengar bahwa rentang waktu dalam sehari bagi seorang yang berhasil adalah 25 jam dan rentan waktu dalam sehari untuk seorang yang gagal adalah 23 jam . caramu untuk menjalani bukanlah masalah yang besar pada akhirnya , yang penting adalah bagaimana caramu untuk menghabiskan waktu 24 jam yang kamu miliki 

PERBAIKI MANAJEMEN WAKTU MU 
Membaca dari pada main games
Membaca koran dari pada menjelajahi internet 
Menonton film dari pada menonton Tv 
Berfikir dari pada berkhayal 
Berdiskusi dari pada bergosip 
Berjalan-jalan dari pada bermain golf 
Berolahraga dari pada berdiet 
Berendam dari pada pergi ke saung
Tidur siang dari pada bangun kesiangan 


Minum air putih untuk meningkatkan mood dari pada mabuk-mabukan 



Rasa Cinta


                                                             Seperti tak berarti
Seperti tak bermakna
Seperti tak ada yang kurang
Seperti ada yang tak lengkap
Seperti hampa saat merasakannya dan melihat

Kemana ?
Kenapa pergi ?
Kenapa tak tinggal ?

Apa aku yang salah tak menahanmu
Apa aku yang tak pernah merasakan kehadiranmu
Apa aku yang telah menyia-nyiakanmu pergi
Jika memang aku yang salah maka maafkanlah
Kembalilah

Hiasi tempat ini , dan indahkan kembali ruang kosong dengan kehadiranmu
Agar ruang kosong yang telah kau tinggalkan takkan terasa sunyi lagi untukmu

Rasa Cinta 
TAK TERBATAS



Langkah yang terbatas oleh jarak , mata yang dibatasi pandangan indrawi , hati yang merasa batasan ketakutan membuat jiwa terasa sesak saat mengingatnya ,
Perlahan-lahan ingin lepaskan segalah belenggu yang mengikat jiwa hingga terlepas dari pergi mencari , tempat dimana bisa kuluapkan emosi-emosi terpendam setelah sekian lama terpenjara oleh dinding ketakutan , teruji batas yang telah mengurungiku , menjadi singgah tak berdaya.

Aku ingin hidup bebas diruang yang membebaskan jiwa dan pikiran dari segalah yang membatasi dan menakuti
Karna tak mungkin aku ada lalu dibatasi dan ditakuti oleh sang Maha Pemberani





Selasa, 25 Oktober 2016

SETAN TANDA PENGINGAT


Setan Adalah Alarm



Seperti yang kita ketahui bahwa alarm ini adalah jam pengingat waktu yang sudah kita tentukan , tetapi itu berlaku hanya pada kesepakatan jam tangan , atau jam dinding.

Kalau dari saya setan itu juga adalah pengingat , maksud saya kenapa saya menggunakan kata SETAN (Syaitan) . karna kita manusia , sebenarnya Tuhan merindukan kita umat-Nya sehingga itu Tuhan selalu memanggil manusia lewat beribadah , misalnya kalau dalam agama islam , umat muslim dipanggil 5 x dalam sehari dengan panggilan “ Haya Ala shalat” yang artinya mari kita shalat (beribadah)  , tapi lantas kita masi mengabaikan panggilanNya padahal 5 x dalam sehari , saya sendiri juga sering mengabaikan panggilan Sang pemilik dunia , ketika manusia hanya mengabaikan panggilan Tuhan , setan pun bergegas pergi menggoda manusia dengan menimpakan masalah , sebenarnya ujian ,cobaan , kesialan adalah ciptaan Tuhan namun setan yang menggerakkan agar nanti ketika manusia sudah tidak mampu sanngup lagi menghadapi masalah yang menimpa  baru akan mengeluh kepada Tuhannya , Tuhan maafkan aku yang selalu melupakan Mu , itulah , kenapa Tuhan menciptakan setan , entahlah Tuhan Maha mengetahui , setiap yang diciptakan pasti ada manfaatnya , nah inilah setan yang selalu berusaha menggoda manusia sampai tenggelam dalam sifat hinanya , nanti ketika sudah merasakan sangat salah baru menyadarinya

‘’ TUHAN SEDANG TERTAWA’’


‘’ TUHAN SEDANG TERTAWA’’

 ‘’ Maksud saya Tuhan sedang tertawa bukan berarti Tuhan sedang termehek-mehek , tetapi secara analogika dipikir melebihi batas rasional bisa jadi , ini secara pemahaman saya yang ingin selalu belajar bukan ingin paling benar , terserahlah modibilang apa aku , modiklaim gila atau modifonis sudah sinting , miring , tidak apalah itu hak kalian.
Kenapa saya berani mengatakan Tuhan sedang tertawa , karena dunia ini hanyalah palsu , dunia lelucon , tidak kekal semua akan kembali kepada-Nya , namun para hamba-hamba dunia hanya saling mencari titik kesalahan , saling mengkafirkan , bid’ah , haram , merasa paling benar , tidak mau menerima pemahaman dari sesama , padahal tanpa disadari kita hanyalah ciptaanNya kebenaran yang paling mutlak hanya Milik-Nya saling membela atas nama Tuhan , apa Tuhan butuh pembela ?
Bukankah Tuhan Maha pembela dunia ….? Trus lantas apa kita berperang atas nama Tuhan terlalu ekstrim menggunakan nama TUHAN , inilah yang saya maksud lucu , dunia lelucon , unik , sudah diciptakan hakikat yang sama tetapi saling membeda-bedakan.
Bukankah sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an
Allah berfirman , ‘’ Hai manusia sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan , dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal ”
Perbedaan itu adalah rahmat , anugerah Tuhan , kepada kita sesama
Namun marilah merenung untuk apa kita saling menyalahkan…? Manusia adalah mahluk Tuhan yang paling sempurna diciptakan akal supaya bisa berfikir rasional , berfikir logis , tapi entah kenapa faktor apa sebenarnya yang dari dulunya hingga sampai sekarang masi ada konflik persamaan yang dibedakan , mungkin faktor Agama.
Agama ini sebenarnya apa sih ?
Apa hanya A (Tidak) gama (kacau) berarti orang ber-Agama tidak kacau ?
Namun malah orang yang ber-Agama bikin kacau , lucu lucu sunnguh lucu , menurut saya Agama hanyalah kesepakatan sebuah materialitas , agama bukan keyakinan , tetapi keyakinan itu agama , keyakinan itu ada dalam hati masing-masing , hari ini manusia ber-Agama masi kabur akan keyakinan sama halnya seperti hewan , hewa saja kalau dijinakkan anjing dan kucing , ayam dan bebek bisa bersatu dalam adaptasi walaupun berbeda spesies , nah manakah lebih baik manusia ber-Agama atau hewan yang tak ber-akal kan lucu kalau saya bilang hewan ….

I N G A T … !!!

“ Agama hadir untuk mempersatukan umat manusia , bukan untuk saling menjatuhkan antar sesama ”
Marilah kita bersatu hidup dalam nama Tuhan , marilah kita hidup rukun dan damai dalam persaudaraan

“ Tidak ada paksaan dalam Agamaku , untukmu agamamu dan untukkulah agamaku , Agama Ku , Agama Mu , Agama Kita ”

Senin, 24 Oktober 2016

Sejarah

Letjend Ahmad Yunus Mokoginta: Sebuah Catatan Melawan Lupa

Oleh: Donald Qomaidiansyah Tungkagi

Ahmad Yunus Mokoginta -- Doc TEMPO
Ahmad Yunus Mokoginta — Doc TEMPO
“Seorang kombatan ataupun perwira yang berdarah merah putih harus memiliki keberanian. Tetapi yang terpenting adalah, seorang kombatan harus ikhlas jika sewaktu-waktu dipanggil Tuhan ketika sedang bertugas”.
Begitu petuah yang diajarkan Letjen Ahmad Yunus Mokoginta tatkalah mendidik anaknya Marsekal Pertama Santos Mokoginta. Petuah tersebut syarat dengan makna heroik. Pengabdiannya yang begitu besar terhadap bangsa sedikitnya tercermin dalam petuah tersebut. Kepribadian yang mencerminkan keberanian membela bangsa serta ikhlas meskipun harus mengorbankan nyawa tersebut patut diteladani.
Ahmad Yunus Mokoginta, nama yang baru saya kenal ketika menginjakkan kaki di bangku kuliah. Nama ini begitu asing bagi anak muda yang lahir di era-awal 1990-an seperti saya. Kalaupun ada, itupun secuil informasi saja, bahwa beliau merupakan salah satu tokoh asal Bolaang Mongondow  yang berkiprah di kanca nasional.
Tahunya bahwa Ahmad Yunus Mokoginta merupakan orang Bolmong, ya, dari marganya. Mudah saja, karena semua yang bermarga Mokoginta, bisa dipastikan itu putra Bolaang Mongondow. Sama halnya ketika orang menyebut marga, Sitompul, Hutapea, Sitohang, dll itu dari Batak. Marga Kawilarang, Lasut, Worang, itu pasti dari Minahasa. Marga, Habibie, Uno, Jasin, Wartabone, dll, itu dari Gorontalo.
Sekitar 3 tahun lalu, di awal-awal masa kuliah, saya mulai menelusuri siapa Ahmad Yunus Mokoginta ini. Kalau di Bolaang Mongondow, nama beliau biasa disebut AY Mokoginta saja. Saking sering disebut AY Mokoginta, saya justru pernah salah kaprah, dengan menyangkah bahwa nama beliau adalah (maaf) “Aye Mokoginta”.
Belakangan saya baru tahu, penyebutan AY Mokoginta untuk Ahmad Yunus Mokoginta itu karena dipengaruhi budaya di Bolaang Mongondow sebagai bentuk penghormatan. Di Bolaang Mongondow ada budaya pantangan untuk “mo ratak tangoi guranga/guhanga” atau menyebut dengan lugas nama orang tua atau yang dituakan. Bagi orang Bolaang Mongondow menyebut nama orang tua secara langsung menimbulkan kesan negatif, tidak sopan. Tidak heran, dijaman saya sekolah dulu, ketika ada seorang teman yang menyebut nama orang tua saya, itu bisa menimbulkan perkelahian, seringkali justru berujung adu jotos dan saling serang bogem mentah.
Di Bolaang Mongondow bagi orang yang sudah berkeluarga/menikah atau mempunyai jabatan yang dijadikan status sosial, namanya sudah mulai disingkat dengan mengunakan huruf depan nama saja, kemudian disusul dengan marga. Kecuali Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Buku Nikah, biasanya urusan yang berhubungan dengan pencatatan nama justru memakai nama singkatan seperti ini. Sedangkan nama panggilan untuk orang yang sudah menikah dan mempunyai anak, maka disematkan nama anaknya yang pertama. Kalau sudah mempunyai cucu, maka disematkan namanya memakai cucu pertama. Misalnya nama ayah saya; Djuliadi Tungkagi, biasanya di kartu undangan sering disebut  Dj. Tungkagi,  karena saya anak pertama maka nama panggilan sehari-hari ayah saya: Papa Donald. Seperti itu. Sempat juga saya berfikir, bahwa mungkin kebiasaan seperti ini yang membuat penulisan sejarah Bolaang Mongondow menjadi sukar untuk direkonstruksi, atau kalaupun bisa, pastinya membutuhkan kerja yang super-duper keras.
Kembali ke Ahmad Yunus Mokoginta, tanpa bermaksud untuk kurang sopan dengan penyebutan nama beliau, saya kira penyebutan nama beliau dengan lengkap akan lebih memudahkan kita untuk mengenal beliau dan seperti apa perjuangan dan peran serta beliau dikanca nasional hingga internasional.
Tanpa berniat untuk mengkultuskan individu – marga siapapun– saya hanya mencoba mengungkapkan secara jujur apa saja kiprah dan karya beliau dengan mengumpulkan berbagai informasi yang terserak di dunia maya. Tujuannya hanya satu, agar generasi muda Bolaang Mongondow menemukan patron untuk dijadikan teladan, serta menjadikan pemantik api semangat dalam meneruskan pembangunan Bolaang Mongondow lebih baik dimasa mendatang.
Semangat Patriotik Warisan Ayah
Ahmad Yunus Mokoginta lahir pada 28 April 1921, di Kotamobagu, Sulawesi Utara. Kotamobagu sendiri memiliki arti Kota Baru yang sebelumnya berada di Desa Sia, Kotamobagu Utara sekarang. Karena terjadi gejolak dari penduduk yang menolak perampasan tanah oleh Belanda untuk perluasan kota, maka rencana perluasan kota dipindahkan di Kotamobagu sekarang, yang nanti terwujud pada tanggal 30 April 1907.
Beliau dilahirkan tepat dimana rasa kebangsaan dan keislaman mulai menggeliat di Bolaang Mongondow. Hal ini pasca masuknya Syarekat Islam pada tahun 1920, yang dibawah Maksun Lubis yang diutus langsung  H.O.S. Cokroaminoto untuk membuka cabang Syarekat Islam di Molinow, Kecamatan Kotamobagu Barat sekarang.
Lahir dari kalangan aristokrat Bolaang Mongondow, Yunus Mokoginta sering digambarkan sebagai orang yang tegas dan mempunyai disiplin tinggi. Darah keturunan kerajaan Ahmad Yunus Mokoginta dapat dari ayahnya Abraham Patra Mokoginta yang merupakan cucu sekaligus cicit raja Bolaang Mongondow. Neneknya Bua’ Dabo adalah putri Raja Abraham Sugeha. Sedangkan kakeknya Abo’ Mundung Mokoginta merupakan anak dari Abo’ Namug Mokoginta (Penghulu Passi) yang menikah dengan bua’ Mohondi, yang merupakan putri Raja Jacobus Manuel Manoppo.
Di beberapa catatan, Yunus Mokoginta dituliskan sebagai sosok yang senantiasa berbusana rapi hal yang khas bagi seorang pejabat negara dan pejabat militer. Raut wajahnya penuh wibawa namun ramah sebagai orang tua, serta ketika berbicara langsung tidak bertele-tele dan langsung fokus pada masalah yang dibicarakan kemudian menguraikannya secara sistematis.
Pada usia 5 tahun, sekitar tahun 1926, Yunus kecil dibawah ayahnya hijrah ke Jawa.  Bisa dibilang keberanian, militansi, serta kekuatan hati Yunus Mokoginta dikemudian hari merupakan hasil didikan dan teladan dari ayahnya, Abraham Patra Mokoginta. Ayahnya merupakan seorang Jogugu (Perdana Menteri) Kerajaan Bolaang Mongondow di masa Raja D.C Manoppo, yang “diasingkan” di Batavia oleh Belanda karena mendukung gerakan Syarekat Islam di Kotamobagu.
Di masa-masa pengasingan di Batavia inilah yang menumbuhkan semangat nasionalisme Abraham Patra Mokoginta. Kedekatannya dengan beberapa tokoh seperti Mohammad Husni Thamrin, Douwes Dekker dan Sam Ratulangi di Batavia inilah yang turut serta memupuk dan menyuburkan semangat nasionalismenya. Semangat seperti ini yang kemudian diturunkan kepada Ahmad Yunus Mokoginta.
Perjalanan Karir dan Perjuangan
Perjalanan pendidikan hingga karir Ahmad Yunus Mokoginta dimulai dari AMS pada masa perang pasifik dan menjadi Kopral Kadet KMA (Konninklijk Militaire Academie) Bandung sekitar tahun 1939, Menjadi Kapten TKR pada tahun 1945 bersama dengan AE Kawilarang meski kemudian berbeda pandangan, Wakil Komandan KRU X dengan pangkat Letnan Kolonel, menjadi Komandan Hijrah Divisi Siliwangi, menjadi Komandan CPM Djawa.
Saat pendudkan Jepang dan masa-masa menjelang dan setelah Proklamasi, terlibat dalam gerakan pemuda. Mokoginta bergerilya di Jawa Barat saat perang Revolusi. Pernah menajdi ajudan Jenderal Urip Sumohardjo. Serta pernah menjabat Komandan Polisi Militer Daerah Jawa, menggantikan Gatot Soebroto (1948-1950).
Panglima Teritorium VII Let Kol, Anggota Fact Finding Commission, Komandan SSKAD/SESKOAD Kolonel, Command and General Staff College Fort Leavenworth Kansas USA Brigjend, Deputy Menpangad, Pangandahan Sumatera Mayjend, Dubes Luarbiasa dan berkuasa penuh untuk Mesir,Libanon,Sudan dan Maroko Letjend, Dirut PT. Tri Usaha Bhakti, Penggagas Forum Study dan Komunikasi AD, Anggota Yayasan lembaga Kesadaran Berkonstitusi, Penandatangan Petisi 50 bersama Ali Sadikin dan Jendral Polisi Hoegeng, dkk.
Saat menjabat sebagai Komandan Tentara Tentorium di Indonesia Timur, AY Mokoginta bersama stafnya ditangkap oleh pasukan bekas tentang KNIL yang dilebur kedalam APRIS dibawah pimpinan Kapten Andi Azis.
Selain itu hasil nyata kerja AY Mokoginta selama bekerja di pulau sumatra juga patut dijempol. Mokoginta menjadi penginisiator lahirnya lembaga sosial yang mewakili kepentingan masyarakat adat di Sumatera Barat yang diberi nama Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM). Mokoginta juga membuat suatu konsep pembangunan sumatera secara menyeluruh yang belakangan dikenal sebagai Plan Mokoginta. Mokinta juga turut memprakarsai pemugaran makam  Amir Hamzah  yang oleh sastrawan HB Jassin dijuluki Raja Penyair Pujangga Baru. Mokoginta  wafat tahun 1984 dan dimakamkan di Taman Pahlawan Kalibata Jakarta.
Catatan Yang Katanya Hitam dari AY Mokoginta
Selain catatan putih dari AY Mokoginta sebagaimana yang penulis jelaskan diatas, terdapat juga informasi terkait “catatan hitam” dari tokoh ini selama beliau bertugas. Yang penulis maksud catatan hitam ini sengaja diberi tanda petik sebagai penegasan subjektifitas penilaian segelintir orang. Kalaupun apa yang dilakukan AY Mokoginta itu memang harus disebut sebagai catatan hitam. Informasi ini sengaja penulis hadirkan dalam catatan ini demi menjaga keberimbangan, minimal untuk meminimalisir pengkultusan kepada tokoh yang ditulis.
Dalam catatannya Dr.Alexander Tjaniago bertajuk “67 Tahun Republik Indonesia” disebutkan bahwa pada saat AY Mokoginta bertugas di Sumatra, di Gayo-Aceh atas Instruksi beliau sebagai Komandan Territoroium Sumatra, dilakukan pembunuhan besar-besaran terhadap PKI . Pada Oktober-November1965, sejumlah 6000 Manusia ( PKI ), dan seterusnya berjalan legalisasi pembunuhan, setiap Minggu 3000 Manusia (PKI) dibunuh, 10 500 Tahanan PKI di Sumatra-Utara kemudian semuanya dibunuh. 40 00 Buruh Plantage Teh dan Karet Tanjungmorawa bersama keluarga dibunuh habis, mereka PKI. ( Ann Laura Stoler, “Capitalism and Confrontation in Sumatra’s Palantation Belt.1870-1979″, Ann Arbor 1995).
Sumber:
El-qudsi, Achsin. Kesederhanaan Marsekal Pertama Santos Mokoginta. Tersedia pada  http://sosbud.kompasiana.com/2010/07/14/kesederhanaan-marsekal-pertama-purn-santos-mokoginta-193832.html di akses 10 Desember 2013
Tangi, Ilham Ambo. Menolak Kolonialisme, Menonton Film Barat di Kota Makasar Tahun 1950-an. Makalah ini dipresentasikan di ITP International Symposium, Kyoto University Jepang, 2-6 Desember 2011.
Tjaniago,  Dr.Alexander. 67 Tahun Republik Indonesia. Tersedia pada http://jakarta45.wordpress.com di akses 10 Desember 2013
http://id.wikipedia.org/wiki/LKAAM diakses 10 Desember 2013
http://www.anakpesisir.com/2012_11_01_archive.html



Catatan kaki, Jejak yang tertinggal..Abo J A Mokoginta

Naskah asli dari "Rangkean Abo' J.A.Mokoginta" sepengetahuan saya ditulis tangan dengan huruf miring menggunakan ejaan lama dalam sebuah buku tulis tipis dan kondisinya pada waktu itu  masih dapat terbaca dengan jelas hanya dipinggiran buku terlihat seperti bekas terbakar sehingga   perlu disalin kembali, kebetulan pada waktu itu di rumah kami yang berada dalam kompleks pabrik  es milik alamarhum L.J.Mokoginta banyak pelajar dan mahasiswa asal Bolaang Mongondow yang menyingkir ke Jakarta sesudah penyerbuan asrama "Bogani" Yogyakarta   oleh orang-orang yang     tidak dikenal menyusul  peristiwa G 30 S/PKI, salah satunya adalah almarhum Kak Hadin  Mokoginta yang oleh keluarga  pada waktu itu diminta untuk menyalinnya  dan setelah selesai kemudian di cetak oleh almarhum Kak Sai'un Mokoginta dalam bentuk buku saku.

Tiga bersaudara yatim piatu seperti dimaksud dalam rangkean ini kemudian hari dikenal sebagai Djogoegoe Abram Patra Mokoginta kemoedian Panggoeloe Juga' Abraham Mokoginta dan Bua'(Inde') Banto' karena    menurut cerita beliau tidak pernah menikah sehingga tidak mempunyai keturunan.....Wallahualam bi al shawab.                            

* Nene yang dimaksud anak Soeltan Jacoboes Manuel Manoppo dalam rangkean ini, dikenal dengan sebutan Bua' Itoy  dikemudian hari setelah menikah dengan Panggoeloe Namug Mokoginta mempunyai putera Majoor Mundung Mokoginta yang menikah dengan anak Raja A.P Sugeha yaitu Bua' Dadibong Sugeha dan dari pernikahan itu lahirlah putera dan puterinya seperti tersebut diatas. Majoor Mundung Mokoginta sendiri meninggal dan dimakamkan di Menado, dikemudian hari ditahun  tujuh puluhan makamnya dipindah ke tanah kelahirannya di Bolaang Mongondow oleh salah satu cucunya yaitu almarhum A.Y.Mokoginta.Soeltan Jacoboes Manuel Manoppo adalah Raja yang pertama memeluk agama Islam, sehingga sejak saat itu Agama Islam berkembang pesat diwilayah Bolaang Mongondow. 

* Toean  Venhuyzen, atau Anthon Cornelis Venhuyzen adalah Controleur Onder Afdeeling Bolaang Mongondow 1901

* Toean Junius atau F Junius adalah Controleur Onder Afdeeling Bolaang Mongondow (1910-1915) 
 * Isterikoe yang dimaksud adalah Bua' Nana C Mokoginta Manoppo
* Anak-anakoelah masih tidor, yang dimaksud pada waktu itu adalah Ismail Oeleng Juga' Mokoginta, L.iminsaoe Juga' Mokoginta, Etty Aminah Juga' Mokoginta, Manuel Juga' Mokoginta
* Saoedarakoe mengirim makan, yang dimaksud adalah Djogoegoe Abram Patra Mokoginta

Novel Dhamopolii menyunting dokumen di grup PUSTAKA BOLMONG.
Jejak yang tertinggal dari masa lalu.... berupa biography dalam bentuk rangkaian puisi Abo' Juga Abraham Mokoginta ini.....sayang jika hilang ditelan waktu atau lembaran-lembarannya habis dimakan oleh rayap yang kehilangan habitatnya.
Mengisahkan masa kecil yang kurang beruntung bersama kedua saudaranya.......yatim piatu tiga bersaudara ini  kemudian hidup dalam limpahan kasih sayang nene yang ditinggal anak dan menantu namun tetap tegar untuk mendidik ketiga cucunya.....itulah yang mengawali isi rangkaian ini, yang dilanjutkan dengan cerita mengenai hal ikhwal pekerjaannya sampai akhirnya menjadi orang buangan.                                                                                    Rangkaian ini sendiri ditulis di tempat persinggahannya di Manado dalam perjalanan menuju tempat pembuangan di Ambon-Maluku, sedang setting seluruh kejadian dalam rangkaian ini adalah di wilayah kerajaan Bolaang Mongondow terkecuali diakhir rangkaian terjadi di wilayah Minahasa yang pada masa itu sangat kental dipengaruhi pemerintah kolonial Belanda baik dalam aspek politik, ekonomi, sosial, hukum dan keamanan.      
Mudah2an rangkaian dibawah ini dapat berguna bagi siapa saja yang membaca.......terlebih lagi jika dapat memetik hikmah dari isi yang terkandung didalamnya



RANGKEAN DARI ABO'  J.A. MOKOGINTA
Hotel Wilhelmina No.12 menado
Tanggal 9/10 - 1 - 1921


1.       Toean dan Njonjalah sekalian
Mari membatja ini rangkean
Saja boekan sadja andekan
Saja menoetoerlah kedjadian

2.  Saja menoetoerlah kedjadian
Doenja boekan boeat seorang
Saja toetoerkan dari moelanja
Sampai apa djadi sekarang

3.  Saja jang toelis rangkean ini
Orang jang ada dalam sengsara
Djika ada berselisihan
Harap maafkan kepada saja

4.  Saja moelaikan ini tjerita
Saja tjoetjoe Radja Soegeha
Saja lahirlah di Bolaang
Tanah jang manakoe amat tjinta

5.  Tahon 1886 Tarik Masehi
15 Agoestoeslah hari ahad
Ini keteranganlah hari-hari
Kedjadian sajalah itoe saat

6.   Saja boekan berkata sombong
Saja menoetoer barang jang ada
Saja beroemoer 9 tahon
Soedah tiada berpoenja Bapa

7.   Mama hidoep badan sendiri
Piara kami tiga anaknja
Piara dengan soesa sekali
Karena ingatlah bangsanja

8.   Berdjalan harilah dengan boelan
Mama hidoep badan sendiri
Satoe toean meminang dia
President Radja Pangkatnja Menteri

9.  Saja menahan soedah terlaloe
Dari dahoeloe sampai sekarang
12 tahon djalan oemoerkoe
Mama meninggallah di Bolaang

10. Sijoh kasian katiga kami
Doea lelaki satoe perempoean
Sekarang soedah anak piatoe
Tiada orang jang mengasian

11. Nene kami anaknja Soeltan
Soeltan bernama Jacoboes Manoppo
Piara kamilah dengan soesa
Di-Bolaang dan di-Mongondou


12. Nene kamilah soedah toea
Oemoer diataslah enam poeloeh
Piara kami tiga saudara
Tiada anaklah tinggal tjoetjoe

13. Nene tinggal djoega berboedi
Kepada samalah manoesia
Menahan soesa piara kami
Ongkost saudarakoe sekolah Radja

14. Soenggoeh Toehan bersipat moerah
Kepada semoealah oemat Nabi
Kendati Nenelah soedah toea
Menoeloeng joega pada Compani

15. Boelan Djanoeari 1901
Tahon jang selaloe diingat-ingat
Toean Venhuyzen naik mongondou
Beloem djoega mendapat tempat

16. Karena Nene orang Bangsawan
Mendengar chabar apa jang djadi
Nene tiada sempat menahan
Haroes menoeloeng pada Compani

17. Toean Korompot Djogoegoe Kantana
Toean venhuyzen soeroeh dahoeloe
Boet tjahariRoemah tinggalnja
Tiada tempat meskipoen satoe


18. Toean Korompot boekannja sombong
Nene djoega jang ia tjari
Membawa chabar jang amat soesa
Compani tiada mendapat Roemah

19. Nene ada tahoe membatja
Djoega menoelis hoeroef Belanda
Serta dengan ini tjerita
Teroes menimpang berpindah Roemah

20. Teroes menimpang berpindah Roemah
Dengan halaman dikanan kiri
Boekan roemah itoe sahadja
Djoega Roemah famili-famili

21. Waktoe Compani sampai kemari
Djam sapoeloehlah pagi hari
Empat Roemah Nene memberi
Apa jang tiada ditoeloeng tjari

22. Barang jang soedah, jang soedah laloe
Boekan sengadja diseboet lagi
Menoeroet rangkean  ampoenja maoe
Barang diseboet memang jang soenggoeh

23. Saja ada doea saoedara
Satoe lelaki dan perempoean
Saja jang hidoep terlaloe soesa
Menahan maloe dan kahinaan


24. Saoedara lelaki jang paling toea
Sekarang ini dalam Djawatan
Moesti mendjaga kawadjibannja
Djoega mendjagalah kemanakan

25. Sekarang dia pangkat Djogoegoe
Nama Manteri di-Karadjaan
Boekan main banjak tasiboe
Dengan segala goda2-an

26. Saja terangkan ini tjerita
Saja pandjangkan rangkean ini
Bagaimana djadilah dirinja beta
Oentoeng nasibkoe djadi bagini

27. Saja ada sekolah Melajoe
Sekolah Goebernemenlah di Manado
Saja poelang lihat nenekoe
Jang soedah toealah di-Mongondou

28. Tahon 1901 lah saja datang
Saja bermalamlah di-Langagon
Bangon siang saja berdjalan
Riki toean Venhuyzen di Los Lobong

29. Serta saja sampai disitoe
Seorang keloear bitjara Melajoe
Serta berkata Rain namakoe
Marsaoleh Bolang-Itanglah djawatankoe


30. Toean Marsaoleh Rain Pontoh
Badannja ketjil koemisnja pandjang
Soedah panggillah saja maso
Dioendjoekannja pada Bangsawan

31. Saja sadja tinggal berdiri
Toean Venhuyzen berkata-kata
Saja teroes berdjalan moedik
Chabar Companilah soedah ada

32. Seperti saja soedah rangkekan
Nenekoe soedah terlaloe toea
Saja tiada boleh tinggalkan
Boeat kombali masok sekolah

33. Saja sekaranglah di-Mongondou
Moesti djoega mentjari makan
Saja berdagang bertibo-tibo
Di-Doemoga dan Kinolontagan

34. Kinolontagan dengan Doemoga
Tempat soenji gelap goelita
Saja tinggal bertahan lama
Menahan hidoep dengan siksa

35. Saja tinggal sadja berdiam
Menahan soesa di penghidoepan
Tiada lain jang koekerdjakan
Membeli deamar mendjoeal barang


36. Mendjoeal damar sepoeloeh roepiah
Haganja moerah sekali
Kalaoe hendak mendjoeal dia
Dengan rakit mengilir kali

37. Kali Doemoga berbatoe-batoe                                                                     Tempat djalan hilir gotjepa
Sementara didjalan itoe
Njawa bernanti sadja koetika

38. Saja empat tahon disini
Saja tjerita sadja begitoe
Saja mengilir djoega sendiri
Bawa gotjepa di ajer itoe

39. Satoe harilah soedah petang
Saja ada bekin gotjepa
Saja melihat seorang datang
Membawa soerat boeat Beta

40. Soerat diisi didalam bako
Dalam popodji ditempat roko
Lantas koeboekalah soerat itoe
Memangil sajalah ka Mongondou

41. Memanggil sajalah ka Mongondou
Memanggil dengan amat siladjoe
Saja sampai harinja beso
Mendjadi Wakil Majoor Cadato


42. Saja heran badan sendiri
Tentoenja ada setiap hari
Tempat jang soetji saja mentjari
Pangkat datang djoega kemari

43. Saja mendjabat djawatan itoe
Saja ada terlaloe moeda
Pada dewasa waktoenja itoe
19 tahon oemoernja soedah

44. Saja memangko djawatan itoe
Kerdja dengan segenap hati
Salama dalamm djawatan itoe
Saja kerdja di pihak Pasi

45. Satoe tahon soedah berdjalan
Saja memangko itoe djawatan
Sedang njata soenggoepon paham
Mendapat Besluit dan ditetapkan

46. Permoelaan tahon katiga
Saat jang tiada dinanti-nanti
Kami ada empat Kapala
Rame-rame dapat berenti

47. Kamoedianlah satoe boelan
Kandjeng Resident memanggil oelang
Kedoea kami dapat djandjian
Boleh lagi diangkat oelang


48. Apa sebab djadi bagitoe
Baik saja djangan oeraikan
Karena tempat boekan disitoe
Sadja djalannja ini rangkean

49. Saja sekarang tiada pangkat
Moelai kombali mentjari hambak
Asal sadja mendapat makan
Bertibo-tibo membeli rotan

50. Pekerdjaan itoe tiada karoean
Dimana tempat saja pergi
Sekarang soedah pindah halaman
Masok bersewah di Goeroepahi

51. Di Goeroepahi saja bekerdja
Satoe tahon ampoenja lama
Siang dan malam didalam tanah
Saboelan gadji lima poeloeh rupiah

52. Selama saja kerdja disitoe
Kerdjanja berat tiada tentoe
Tjahari koeli bawa kasitoe
Masok di loebang membakar batoe

53. Kemoedian tiada tahan
Saja rasa terlaloe berat
Saja pindah pentjaharian
Mentjari koeli si orang Arab


54. Salama saja kerdjakan ini
Satoe oranglah satoe ringgi
Satoe boelan 10 hari
Saratoes orang saja dapati

55. Beberapa boelan saja berdjalan
Togid, Molobog dengan Noeangan
Sakoenjung-koenjoeng datang chabaran
Toean Joenius baharoe datang

56. Boelan December pertama-tama
Saja diroemah Kinompol Walang
Datang oranglah naik koeda
Serahkan satoe soerat panggilan

57. Roemahnja Kinompol waktoe itoe
Ada ditengah negeri Molobog
Saja membatjalah soerat itoe
Lantas berangkat terlaloe takot

58. Saja berdjalan menoenggang koeda
Dari malamlah sampai pagi
Saja berdjalan dengan sangsara
Sampai diroemahlah tengah hari

59. Sampai diroemahlah tengah hari
Nene ada di Gandaria
Serta lihat saja kemari
Nene soedah amat bersoeka


60. Nene soedah amat bersoeka
Serta Nene teroes membilang
Saja soedah diangkat poelah
Mendjadi Majoorlah di Bolaang

61. Saja mendengar chabar jang soenggoe
Saja bersoekalah boekan patoet
Saja menghadap toean Padoeka
Bilang tempatkoe Majoor di Sangkoeb

62. Bilang tempatkoe Majoor di Sangkoeb
Saja sadja tinggal berdiam
Dapat perintah berangkat teroes
Moesti kerdjalah di Bolaang

63. Moesti kerdjalah di Bolaang
Pagi-pagi teroes berdjalan
Toean Junius ada di djalan
Antara Iniboeng dengan Sioekan

64. Antara Iniboeng dengan Sioekan
Djalan sudah dibage-bage
Saja singgah berdjabat tangan
Serta mengoetjap terima kaseh

65. Serta mengoetjap terima kaseh
Toean Junius beri nasehat
Saja tiada berkata lagi
Berangkat teroes sampaikan niat


66. Saja sampailah di Bolaang
Tinggal di Roemah sama sangadi
Saja mendjoendjoeng ini djawatan
Dengan amat berhati-hati

67. Salama dengan djawatan itoe
Saja kerdja mati-matian
Karena ingat perkara maloe
Dengan tanahlah Kadjadian

68. Dengan tanahlah Kadjadian
Tanah ajer toempah darahkoe
Kandati dengan banjak rintangan
Pekerdjaan mendapat madjoe

69. Kandati dengan banjak rintangan
Saja bersabar kerdjakan teroes
Doea tahonlah dibelakang
Saja dipoedji toean Junius

70. Toean Junius soedah merasa
Tentoe Padoeka soedah bareken
Teroes djandjikan kepada saja
f.200,- oewang porsen

71. Ini wanglah doea ratoes
Saja selalu ada bareken
Kemoedian berapa lama
Diserahkanlah toean Vischer


72. Kemoedianlah satoe boelan
Dari saja didjandji oewang
Saja dipindah dari Bolaang
Mendjadi Majoor di Kopandakan

73. Di Kopandakan banjak Mesehi
Saja bertinggallah satoe tahon
Saja memboeat doea negeri
Sawah-sawah dan dodokoe gantoeng

74. Satoe tahon soedah berdjalan
Saja tinggal di Kopandakan
Sekoenjoeng-koenjoeng datang atoeran                                                               
Saja dipindah poelang Bolaang

75. Saja dipindah poelang Bolaang
Isterikoe bersoeka soenggoe
Saja bekerdja siang dan malam
Sampai diangkat djadi Penghoeloe

76. Saja sekarang pangkat Penghoeloe                                                                  
Siang malam saja berdjalan
Boeat kerdjakan apa jang perloe
Bagi goena semoea orang

77. Saja kerdja di djalan Lolak
Antara Mojambak dengan Laboean
Serta djalanlah soedah siap
Saja dipindahlah ke Lolajan


78. Baroe berapa hari disitoe
Keloear poelah atoeran baroe
Saja dengan pangkat Penghoeloe
Boeka Doemoga District jang baroe

79. Di Doemoga saja bekerdja
Toedjoeh boelan ampoenja lama
Djalan-djalan baharoe diboeka
Saja kembali mendapat pindah

80. Saja ada barang patoedjoe
Kinolontagan negeri jang baharoe
Orang Doemoga pindah disitoe
Goena kemoedian mendjadi madjoe

81. Ini ingatan kepada saja
Pada madjoekan tanah Doemoga
Tetapi tiada riki kerdja
Karena saja soedah dipindah

82. Saja dipindah tiada karoean
Dimana tempat jang ditoendjoekan
Sekarang poelang lagi Bolaang
District jang soesah diperintahkan

83. Maksoed saja boeat Doemoga
Pada bertahon mendjadi goena
Toean Mocodompit jang ganti saja
Soedah teroeskan itoe semoea


84. Sekarang saja poelang Bolaang
Berangkat denganlah roemah tangga
Disana sajalah ditetapkan
Sampai dihari dapat tjelaka

85. Saja berangkat dari Doemoga
Tiga hari sampe Bolaang
Itoe tahon terlaloe soesa
Segenap negerilah kalaparan

86. Waktoenjalah saja sampai
Pada tempo angin salatan
Saja berdjalanlah rame-rame
Mengoeroes kebon dioetan-oetan

87. Mengoeroes kebon dioetaoetan                                                                               Berdjalan kaki dan naik koeda
                                       Dihoeloe Sangkoeb saja berdjalan
                                       DiOeto' denganlah Sinagkija'

88. Djika saja djalan Coemissie
Saja tiada memilih tempat
Dimana negeri jang saja pergi
Kebon dahoeloe jang saja adjak

89. Salama dalam itoe waktoe
Saja berdjaga terlaloe amat
Sekoenjoeng-koenjoeng datang godaan
Tjilaka diri dengan sakidjap


90. Sekarang ini saja tambahkan
Pada menjamboeng ini rangkean
Tjelaka apa jang soedah datang
Atas dirikoe sampai sekarang

91. Saja ada di negeri Tadoij
Di Roemahkoe di Balai-balai
Doea toeanlah naik Bendy
Serta sampai doea sengadi

92. Saja lihatlah kedoeanja
Manoppo denganlah Gonibala
Sengadi-sengadi asal bangsa
Membawa soerat toean Padoeka

                                              93. Hari sorelah empat djoeli
                                              Kedoeanja berdjalan dengan siladjoe                                                               
Saja membatjalah soerat itoe
                                           Saja berhadap hari ketoedjoeh

94. Saja berhadap hari ketoedjoeh
Pagi-pagi djam sambilang
Saja berangkat dengan siladjoe
Dari roemahkoelah amper siang

95. Dari roemahkoelah amper siang
Didjalan ada memake obor
Soepaja hati tiada gagawang
Anak-anakoelah masi tidor


96. Anak-anakoelah masi tidor
Isterikoe sadja jang ada bangon
Berdjalan dengan tiada tempo
Berangkat dengan hati jang antjor

97. Ingatkan apa jang akan djadi
Auto berdjalan tiada ladjoe
Djam enamlah pagi-pagi
Sampai dengan hati tasiboe

98. Djam enam waktoenja soeboeh
Orang-oranglah belom bangon
Sampai diroemahlah saoedarakoe
Datang famili di Kotobangon

99. Soedah lepas djam delapan
Saoedarakoe memberi makan
Saja sadja memakan telor
Lantas berangkat pigi di kantoor

100. Lagi sedikit djam sambilang
Saja sampai dimoeka kantoor
Padoeka datang menjoeroeh bilang
Saja bernanti doeloe di kantoor

101. Saja doedoek doeloe sedikit
Dimoeka kantoor ada kadera
Saja lihat semoea Perdjoerit
Keloear bares di djalan rajah


102. Keloear bares di djalan rajah
Saja ada doedoek sendiri
Tiada lama datang Djaksa
Dengan Commandant teroes kemari

103.    Serta sampai Djaksa mengator
Saja masok di kamar kantoor
Serta saja ada di dalam
Commandant memeriksalah sendjatan

104. Commandant memeriksalah sendjatan
Saja diam tinggal berdiri
Tiada ada jang kedapatan
Dimana saja ampoenja diri

105. Dimana saja ampoenja diri
Hanja tempat roko sahadja
Dari sitoe berdjalan kami
Menoedjoe roemah toean Padoeka

106. Setelah sampai dimoeka tangga
Dimoeka pintoe di gandaria
Katiga kami naik sesama
Boeat menghadap toean Padoeka

107. Padoeka pada waktoenja itoe                                                          
Memakai poetih dengan tjepatoe
Dimoekanja medja dan boekoe-boekoe
Lantas tetapkanlah saja doedoe


108. Pada waktoe itoe koetika
Padoeka boekan sendiri sadja                                                               
Doedoek menghadaplah Boekoe titah
Sesama toean Padoeka Radja

109. Sesama toean Padoeka Radja
Saja doedoek atas koeroesi
Djaksa ada disitoe djoega
Commandant berdiri sabla kiri

110. Padoeka moelai berkata-kata
Mengambil soerat diatas medja
Memberi Besluit lepaskan saja
Serta menoetoerlah perkara

111. Sekarang saja orang tahanan
Saja doedoek tinggal berdiam
Padoeka lantas beri atoeran
Menghentar saja dalam toetoepan

112. Saja mendengar atoeran ini
Saja djoega lantas berdiri                                                                  
Commandant dikanan Djaksa dikiri
Lantas berdjalan katiga kami

113. Padoeka ini orang bangsawang
Oemoer moeda pangkatnya tinggi                                                                     Bitjara dengan menoenjoek sajang
Kepada saja ampoenja diri


114. Setengah sapoeloeh sakira-kira
Saja dimasokan dalam pendjara                                                         
Ditempat Civir disabla moeka
Disitoe saja diberi tampa

115. Sekarang saja dalam toetoepan
                 Bergantong sadja kepada Toehan                                                                      Menoenggoe sadja ada poetoesan
Dimana tempat saja diboeang

116. Saja tiada merasa gadoh
Seperti mimpi didalam sono
Saja kaget mendengar auto
Tinggi datang dari Menado

117. Itoe djam setengah tiga
Lima djam saja disitoe
Tiada lama datang Djaksa
Keloearkan sajalah dari sitoe

118. Keloearkan sajalah dari sitoe
Adampe djoegalah ada datang
Menoeroet perentah Padoeka itoe
Saja tinggal di Persinggrahan

119. Saja keloear dengan Djaksa
Berdjalan sadjalah ngale-ngale
Saja berhadap lagi Padoeka
Serta memberi terima kaseh


120. Lima djam dalam pendjara
Saoedarakoe mengirim makan
Saja tiada santapkan dia
Laparpoen djoega tiada datang

121. Laparpoen djoega tiada datang
Saja tiada rasa tasiboe
Karena apa jang kadjadian
Toehan jang tinggi mengatoer itoe

122. Saja sekarang di Persinggrahan
Roemah adalah gandaria
Ditempat itoe saja ditahan
Siang dan malam Perdjoerit djaga

123. Siang dan malam Perdjoerit djaga
Dipintoe moeka dengan belakang
Oleh karoenia toean Padoeka
Diloeaskan famili datang

124. Tiga hari dan tiga malam
Saja ditahan ditempat itoe
Dengan keloeasan toean Padoeka
Ratoes famili datang bertemoe

125. Ratoes famili datang bertemoe
Dari Passi dengan Lolajan
          Membawaoewang berpoeloe-poeloe                                                             Dengan roepa-roepa makanan


126. Saja doedoek berdiam soedah                                                                     
Djam sambilang sakira-kira
Djaksa datang memanggil saja
Behadap di kantoor pada Padoeka

127. Saja berhadap djam sapoeloeh
Djaksa datang memanggil oelang
Saja berhadaplah hari itoe
Padoeka periksa lebar dan panjang

128. Padoeka periksa lebar dan panjang                                                              
Sampai semoealah soedah abis
Saja kombali ke Persinggrahan
Kedoea hari doedoek Madjalis

129. Kedoea hari doedoek Madjalis
Di kantoor Afdeeling Kotamobagoe
Saja diperiksa lagi sedikit
Sampai djamlah poekoel satoe

130. Sampai djamlah poekoel satoe
Saja ditanja oleh anggota
Saja terangkan apa jang soenggoe
Hal toedoehan kepada beta

131. Hal toedoehan kepada beta                                                      
 Semoea saja ada terangkan
Nomor satoe perkara soempa
Nomor doea perkara oewang


132. Hal toedoehan sampai disini
Baik saja djangan terangkan
Anggota Madjalis semoea ahli
Sampai djatoehkan itoe poetoesan

133. Djam satoelah tengah hari
Saja disoeroeh keloear dahoeloe
Satoe djam dipanggil lagi
Padoeka lantas memberi tahoe

134. Padoeka lantas memberi tahoe
Apa timbangan dari semoea
Saja dihoekoem dalam toeroengkoe
Tiga tahon ampoenja lama

135. Waktoe saja mendengar itoe
Saja seperti terbajang-bajang
Apa jang djadi sesal hatikoe
Kabadjikankoe di Karadjaan

136. Kabadjikankoe di Karadjaan
Seperti saja toelis diatas
Empatblas tahon saja menahan
Gadji jang ketjil dan tiada tetap

137. Saja djoega pangkat Mantri
Kepala District jang pertama
Doeloe-doeloe selalu dipoedji
Sekarang terima anoegerahnja


138. Sesoedah Padoeka abis membilang
Apa Madjalis poenja poetoesan
Padoeka djoega teroes loeaskan
Menoenggang koeda sepandjang djalan

                    139. Menoenggang koeda sepandjang djalan                                                       
                            Ikot di djalan Poopo Mongondou
                                        Padoeka djoega soedah terangkan
                                        Di Motoling Djaksalah dengan auto

140. Sesoedah Padoeka abis riwajat                                                           
Djam doealah soedah lepas
Teroes titahkan haroes berangkat
Pada djam dan itoe saat

141. Sesoedah abis itoe poetoesan
Padoeka lantas poelang ke roemah
Saja dan Commandant bersama-sama
Boeat lengkapkan koeda semoea

142. Boeat lengkapkan koeda semoea
Perdjoerit-perdjoerit ada di djalan                                                               
Salama menoenggoe pada Padoeka
Saja dan Commandant ke Persinggrahan

                                143. Saja dan Commandant ke Persinggrahan                                                        Doedoek sedikit atas kadera
                                        Saja kaget seorang datang
                                         Pelok dikaki kepada beta


144. Pelok dikaki kepada beta
Sambil menangis meraoeng raoeng
Saja lihat siapa dia
Oleng Mocodompit sengadi Ajong

145. Oleng Mocodompit sengadi Ajong
Badannja ketjil koelitnja poetih
Dia ini jang angkat soempa
Kemoedian djadi saksi

146. Samantara Oleng menangis
Saja ada memboedjoek dia
Kaget datang satoe Perdjoerit
Padoeka soeroeh memanggil saja

147. Padoeka soeroeh memanggil saja
Djoega sesama toean Commandant                                                     
Kami lantas menoenggang koeda
Sama-sama teroes berdjalan

148. Sama-sama teroes berdjalan
Padoeka djoega ada sesama
Perdjoerit dimoeka dan dibelakang
Semoea ditjabutlah sendjatan

149. Semoea ditjabutlah sendjatan
Ikot di Biga' dengan Pontodon                                                     
Menoeroet titah toean Padoeka
Semoea snaphan diisi pathron




150. Sementara kami berdjalan
Lewat Pontodon dengan Pangian
Semoea orang ada di djalan
Menangis dengan memelok tangan

151. Menangis dengan memelok tangan
Saja tiada mengerti lagi
Tawakal sadja kepada Toehan
Berharap keadilan dari Compani

152. Berharap keadilan dari Compani                                                     
Padoeka djoega soedah membilang
Lihat tangisan dari famili
Hati antjor seperti garam

153. Djam tiga sapoeloeh djuli
Kami sampai diliwat Poopo
Padoeka lantas poelang kembali
Kami berdjalan membawa sido

154. Waktoe bertjere dengan Padoeka
Beliaoe toendjoek merasa berhati sajang
Memberi tangan kepada saja
Ajer matanja berlinang-linang

155. Ajer matanja berlinang-linang
Laloe idzinkan kepada saja
Bertjiom dengan berdjabat tangan
Kepada famili jang hentar saja

156. Kepada famili jang hentar saja
Kami heran moelai memboekit
Lain Perdjoerit dengan Padoeka
Sembilan dan gersant jang hentar saja

157. Sepoeloeh perdjoerit sesama saja
Lain dimoeka dan dibelakang
Kami sampai diatas boekit
Betoel soedah mendapat malam

158. Betoel soedah mendapat malam
Soedah amat gelap goelita
Empat sido teroes dipasang
Saja berdjalan ditengah-tengah

                                      159. Saja berdjalan ditengah-tengah
                                      Dengan menoenggang koeda jang poetih                                                          
                                      Menoeroet titah toean Padoeka
                                      Moesti sampai di negeri Toemani

160. Moesti sampai dinegeri Toemani
Saja sadja orang tahanan
Sampai di Los ditepi kali
Soedah lepas djam delapan

161. Soedah lepas djam delapan
Kami sampai di Los itoe
Gersant bilang berhenti makan
Serta tidor sadja disitoe

162. Serta tidor sadja disitoe
Kami rikilah ada orang
Serta dipanggil menjoeroeh bangon
Empat famili di Kotobangon

163. Empat famili di Kotobangon
Hadji dengan tiga temannja
Soedah djalan lebih dahoeloe
Membawa makanan boeat sahaja

164. Kami teroes makan disitoe
Gersant mengator orang mendjaga
Djam empat kami berlaloe
Meliwat djalan jang amat soesa

165. Meliwat djalan jang amat soesa
Goenoeng petje dan batoe batoe
Masi amat gelap goelita           
Berdjalan dengan memake lampoe

166. Berdjalan dengan memake lampoe                                                            
Meliwati toebir jang amat dalam
Tjelaka njawa beloem disitoe
Sampai tiada apa jang koerang

167. Sampai tiada apa jang koerang
Saja tinggal diatas koeda
Djam toedjoe memboeka siang
Kami sampai di djalan rata



168. Kami sampai di djalan rata
Tempat djorami jang soedah terang
Kami berdjalan tiada lama
Berdjoempalah dengan banjak orang

169. Berdjoempalah dengan banjak orang
Berdjalan kaki dan naik koeda
Semoea ada dengan sendjata
Antaranja itoe kepala-kepala

170. Sekarang sampai di negeri Motoling                                                        
Negeri ramai banjak orangnja
Kami lantas mentjari tahoe
Dimana toean Djaksa dengan oppasnja

171. Antaranja itoe kepala-kepala
Saja lihati sadja di kantjing
Kami berdjalan bersama-sama
Sampai di tengah negeri Motoling

172. Sekarang sampai di negeri Motoling
Negeri ramai banjak orangnja
Kami lantas mentjari tahoe
Dimana toean Djaksa dengan oppasnja

173. Dimana toean Djaksa dengan oppasnja
Kami teroes mendapat chabar
Toean Djaksa dengan oppasnja
Diroemah toeanlah Hm. Besar

174. Toean Hm. Besar nama Warokka
Toean baik dengan boediman
Serta lihat kepada saja
Dipanggil naik dikaseh makan

175. Toean Wenas pangkatnja Djaksa
Orang moeda asal Bangsawan
Kami berangkat itoe koetika
Dengan autolah ke Amoerang

176. Djam limalah di Amoerang
Kami pindah dilain auto
Sesoedah itoe teroes berdjalan
Djam toedjoe sampai Menado


Djakarta, 3 Djuli 1966
Disalin sesuai dengan aslinja


Jang menjalin :

( Hadin Mokoginta )

Ditjetak dan dikoreksi oleh :
Sai'un Mokoginta

PERTJETAKAN SITAYA

Janji awan pada Hujan

Aku mencintaimu, bagian mana yang tidak kamu mengerti? biar aku jelaskan disini Aku ingin mencintaimu. ingin mencintaimu Lebih besar ...