Sosok
Srikandi Dumoga (Lipu’ in mogoguyang)
Sosok srikandi muda, dikenal sebagai
aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) orator handal, pendobrak, feminis islam, semua itu lekat
dengan sosok utat (saudari) Sintiani
Mamonto. bobay (Wanita) berdarah Mongondow yang dilahirkan di Bumi Totabuan
pada 17 April 1995, dua hari sebelum pengeboman di kota Oklahoma. Nampak dunia
menyambutnya dengan kekacauan sebagai tanda perjuangan terus-menerus kaum tertindas.
Baginya perempuan adalah sebuah
nilai bukan hanya sebatas dapur, kasur dan sumur. Perempuan adalah bagian dari
perubahan, penumpas kezoliman, penegak keadilan. Sejarah mencatat banyak
perempuan yang hadir sebagai penggerak perlawanan terhadap kaum penjajah. Sebut
saja Cut Nyak Dhien, Dewi Sartika, R. A Kartini dan masih banyak lagi perempuan
yang membuktikan eksistensinya sebagai bagian dari perjuangan menggapai
kemerdekaan.
Melihat kondisi hari ini, sedikitnya
sosok perempuan yang berani mengambil bagian dari jalannya pemerintahan, Utatku
(saudariku) ini, dengan berani tampil sebagai sosok yang mampu merubah
paradigma tentang “pemimpin seharusnya laki-laki, perempuan tidak ada kaitannya
dengan kepemimpinan” menjadi “Laki-laki, perempuan mempunyai hak yang sama”.
Hal ini dibuktikan dengan
pencalonannya sebagai Presiden Mahasiswa di IAIN Sultan Amai Gorontalo. Dengan
menggaet putri Bolango dari Bolaang Mongondow selatan sebagai wakilnya. Hal ini
menunjukkan bahwa utat (saudari) Sintiani Mamonto ingin membuktikan bahwa
perempuan mampu memimpin. Bukan hanya sekedar dipimpin. Juga dengan terpilihya
utat (saudari) Sintiani Mamonto sebagai Ketua Umum (DERMAGA-BM) Dewan Pelajar
Mahasiswa Dumoga Bolaang Mongondow.
Bagaimanapun
juga, utat (saudari) Sintiani Mamonto. Tidak pernah usang dalam keperempuanan.
Perjuangan seorang perempuan yang menginginkan kesetaraan, sesuatu yang juga
diperjuangkan Cut Nyak
Dhien, Dewi Sartika, R. A Kartini dan bnyak perempuan lain di Indonesia.
Saya kurang tahu betul, apakah di zaman sekarang, hal ini masih relevan. Dimana
seorang perempuan diperlakukan lebih rendah dari laki-laki. Misalnya, dalam
pendidikan dan dalam pernikahan. Dua hal yang memang banyak menjadi konsern
kita belakangan ini.
Seperti
kata Khudori, ada yang nature dan nurture (lupa istilahnya). Nature, perempuan
itu melahirkan, mengalami datang bulan,dan sbagainya. Inilah yang disebut
kodrat. Pendidikan, kesetaraan, pernikahan itu adalah sesuatu yang berbeda.
Sesuatu yang bisa diperjuangkan. Termasuk dalam kisah hubungan muda-mudi. Tidak
perlu terjerat paradigma "cowok harus duluan mengungkapkan" dan
sebagainya. Alih-alih bahagia, kebanyakan kisah yang saya dengar berakhir
kepada penyesalan yang tak kunjung selesai sepertinya.
Namun
ketahuilah
Perempuan
datang atas nama cinta
Bunda pergi karena cinta
Digenangi air racun jingga adalah wajahmu
Seperti bulan lelap tidur dihatimu
Yang berdinding kelam dan kedinginan
Ada apa dengannya
Meninggalkan hati untuk dicaci
Baru sekali ini aku melihat karya surga dalam mata seorang hawa
Ada apa dengan cinta
Tapi aku pasti akan kembali
Dalam satu purnama
Untuk mempertanyakan kembali cintanya
Bukan untuknya
Bukan untuk siapa
Tapi untukku
Karena aku ingin kamu
Itu saja
Bunda pergi karena cinta
Digenangi air racun jingga adalah wajahmu
Seperti bulan lelap tidur dihatimu
Yang berdinding kelam dan kedinginan
Ada apa dengannya
Meninggalkan hati untuk dicaci
Baru sekali ini aku melihat karya surga dalam mata seorang hawa
Ada apa dengan cinta
Tapi aku pasti akan kembali
Dalam satu purnama
Untuk mempertanyakan kembali cintanya
Bukan untuknya
Bukan untuk siapa
Tapi untukku
Karena aku ingin kamu
Itu saja
Srikandi-srikandi
Islam akan selalu ada di setiap masa.Tak terbatas tempat tak terbatas waktu.
Catatan yang anda baca saat ini bukanlah sebuah karya biografi, namun catatan
ini bercerita tentang potret saya terhadap utat (saudari) sapaan hari-hari
sintia. Di dalam catatan ini terdapat “bumbu-bumbu” sejarah dan analisa yang di
harapkan bisa menambah wawasan dan kepribadian kita semua.
Akhir kata, wanita tidak dijajah pria sejak dulu, namun sejak dulu, Islam yang di bawakan Nabi Muhammad SAW telah memuliakan wanita.
Akhir kata, wanita tidak dijajah pria sejak dulu, namun sejak dulu, Islam yang di bawakan Nabi Muhammad SAW telah memuliakan wanita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar