Kamis, 10 Agustus 2017

Srikandi

Sosok Srikandi Dumoga (Lipu’ in mogoguyang)





Sosok srikandi muda, dikenal sebagai aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) orator handal, pendobrak, feminis islam, semua itu lekat dengan sosok utat (saudari)  Sintiani Mamonto. bobay (Wanita) berdarah Mongondow yang dilahirkan di Bumi Totabuan pada 17 April 1995, dua hari sebelum pengeboman di kota Oklahoma. Nampak dunia menyambutnya dengan kekacauan sebagai tanda perjuangan terus-menerus kaum tertindas.

Baginya perempuan adalah sebuah nilai bukan hanya sebatas dapur, kasur dan sumur. Perempuan adalah bagian dari perubahan, penumpas kezoliman, penegak keadilan. Sejarah mencatat banyak perempuan yang hadir sebagai penggerak perlawanan terhadap kaum penjajah. Sebut saja Cut Nyak Dhien, Dewi Sartika, R. A Kartini dan masih banyak lagi perempuan yang membuktikan eksistensinya sebagai bagian dari perjuangan menggapai kemerdekaan.

Melihat kondisi hari ini, sedikitnya sosok perempuan yang berani mengambil bagian dari jalannya pemerintahan, Utatku (saudariku) ini, dengan berani tampil sebagai sosok yang mampu merubah paradigma tentang “pemimpin seharusnya laki-laki, perempuan tidak ada kaitannya dengan kepemimpinan” menjadi “Laki-laki, perempuan mempunyai hak yang sama”.






Hal ini dibuktikan dengan pencalonannya sebagai Presiden Mahasiswa di IAIN Sultan Amai Gorontalo. Dengan menggaet putri Bolango dari Bolaang Mongondow selatan sebagai wakilnya. Hal ini menunjukkan bahwa utat (saudari) Sintiani Mamonto ingin membuktikan bahwa perempuan mampu memimpin. Bukan hanya sekedar dipimpin. Juga dengan terpilihya utat (saudari) Sintiani Mamonto sebagai Ketua Umum (DERMAGA-BM) Dewan Pelajar Mahasiswa Dumoga Bolaang Mongondow.

Bagaimanapun juga, utat (saudari) Sintiani Mamonto. Tidak pernah usang dalam keperempuanan. Perjuangan seorang perempuan yang menginginkan kesetaraan, sesuatu yang juga diperjuangkan Cut Nyak Dhien, Dewi Sartika, R. A Kartini dan bnyak perempuan lain di Indonesia. Saya kurang tahu betul, apakah di zaman sekarang, hal ini masih relevan. Dimana seorang perempuan diperlakukan lebih rendah dari laki-laki. Misalnya, dalam pendidikan dan dalam pernikahan. Dua hal yang memang banyak menjadi konsern kita belakangan ini.

Seperti kata Khudori, ada yang nature dan nurture (lupa istilahnya). Nature, perempuan itu melahirkan, mengalami datang bulan,dan sbagainya. Inilah yang disebut kodrat. Pendidikan, kesetaraan, pernikahan itu adalah sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang bisa diperjuangkan. Termasuk dalam kisah hubungan muda-mudi. Tidak perlu terjerat paradigma "cowok harus duluan mengungkapkan" dan sebagainya. Alih-alih bahagia, kebanyakan kisah yang saya dengar berakhir kepada penyesalan yang tak kunjung selesai sepertinya.

Namun ketahuilah

Perempuan datang atas nama cinta
Bunda pergi karena cinta
Digenangi air racun jingga adalah wajahmu
Seperti bulan lelap tidur dihatimu
Yang berdinding kelam dan kedinginan
Ada apa dengannya
Meninggalkan hati untuk dicaci
Baru sekali ini aku melihat karya surga dalam mata seorang hawa
Ada apa dengan cinta
Tapi aku pasti akan kembali
Dalam satu purnama
Untuk mempertanyakan kembali cintanya
Bukan untuknya
Bukan untuk siapa
Tapi untukku
Karena aku ingin kamu
Itu saja


Srikandi-srikandi Islam akan selalu ada di setiap masa.Tak terbatas tempat tak terbatas waktu. Catatan yang anda baca saat ini bukanlah sebuah karya biografi, namun catatan ini bercerita tentang potret saya terhadap utat (saudari) sapaan hari-hari sintia. Di dalam catatan ini terdapat “bumbu-bumbu” sejarah dan analisa yang di harapkan bisa menambah wawasan dan kepribadian kita semua.

Akhir kata, wanita tidak dijajah pria sejak dulu, namun sejak dulu, Islam yang di bawakan Nabi Muhammad SAW telah memuliakan wanita.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Janji awan pada Hujan

Aku mencintaimu, bagian mana yang tidak kamu mengerti? biar aku jelaskan disini Aku ingin mencintaimu. ingin mencintaimu Lebih besar ...