Tetralogi Sulawesi
Lembayung senja sejak tadi mengembang. Warnanya perak hingga tampak
berkilau, berpadu dengan garis-garis biru yang bersemu. “terimakasih tuan
gumalangit, amanah yang tuan sampaikan telah kami terima dengan sukacita.
Persaudaraan Sulawesi adalah harga mati. Sejak ribuan tahun lalu, para leluhur
telah menggariskan. Pasang surut badai kehidupan, tidak akan memutuskan persatuan
Sulawesi. Segala salah faham serumit apapun pasti bisa diselesaikan. Kami tahu,
ini tidaklah mudah. Sekarang pun telah terasa. Kami bisa menghitung seratus
kemungkinan buruk akan dihadapi oleh anak cucu kita nanti. Tapi itulah yang
telah digariskan oleh pencipta. Sekali lagi terimakasih. Adakah pesan tambahan
yang ingin tuan sampaikan?” semua orang yang duduk meliingkar terdiam. Bahkan
untuk berbatuk pun dibuat sehalus mungkin. Pemuda yang dipanggil gumalangit,
duduk bersimpuh dengan kedua tangan saling menopang. Ia mengerti sedang berada dinegeri selatan.
Negeri dimana adat istiadat berlaku dengan sangat keras, tetapi juga diliputi
oleh budi pekerti sangat lemah lembut. Pekan lalu ia masih berada di kesultanan
buton, sebelum bertemu dengan para tetua tolaki. Menumpang kapal saudagar
bugis, ia merapat diteluk bone. Lalu dari sana ia terus menyisir pantai selatan
hingga tiba dipelabuhan Makassar.
-------------“kami akan mengingat anak cucu diseantero lipu’
mongondow, lipu’ u hulontalo, wanua minaesa, dan banua nusa utara, bahwa
saudara-saudara kami di seluruh jazirah tana rigalla’ tana ri ‘abbusungi
bersetia kata pada perjanjian Sulawesi satu. ------------<<dialog utusan negeri utara dengan tetua negeri selatan, tentang
kesepahaman Sulawesi satu>>
Setelah mereka menyusun huruf B dan M ternyata tertemukan zona
Bolaang Mongondow. Titik tempat bertemunya corak agraris dan maritim pada satu
wilayah. Sebuah rahasia penting terungkap dari rangkaian kata Bitung, buton,
bulukumba, bajo, bone, bantaeng, bolaang, bone bolango, banggae, banggai,
banggaiba, bonehau, baras, bintauna, bawakaraeng, bambapuang, dengan rangkuman
kata M: minahasa, mongondow, manganitu, miangas, Makassar, mandar, manado,
makale, malili, massenrengpulu, rupanya terkait dengan sandi huruf BA dan MIM.
Ba adalah huruf tentang awal kelahiran sedang MIM adalah kematian. Ini pasangan
hidup mati. Langit akhirnya mengerti, bahwa
Sulawesi adalah huruf LAM ALIF TERBALIK.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar