Jumat, 14 April 2017

                      
                         Tetralogi Sulawesi 


Lembayung senja sejak tadi mengembang. Warnanya perak hingga tampak berkilau, berpadu dengan garis-garis biru yang bersemu. “terimakasih tuan gumalangit, amanah yang tuan sampaikan telah kami terima dengan sukacita. Persaudaraan Sulawesi adalah harga mati. Sejak ribuan tahun lalu, para leluhur telah menggariskan. Pasang surut badai kehidupan, tidak akan memutuskan persatuan Sulawesi. Segala salah faham serumit apapun pasti bisa diselesaikan. Kami tahu, ini tidaklah mudah. Sekarang pun telah terasa. Kami bisa menghitung seratus kemungkinan buruk akan dihadapi oleh anak cucu kita nanti. Tapi itulah yang telah digariskan oleh pencipta. Sekali lagi terimakasih. Adakah pesan tambahan yang ingin tuan sampaikan?” semua orang yang duduk meliingkar terdiam. Bahkan untuk berbatuk pun dibuat sehalus mungkin. Pemuda yang dipanggil gumalangit, duduk bersimpuh dengan kedua tangan saling menopang.  Ia mengerti sedang berada dinegeri selatan. Negeri dimana adat istiadat berlaku dengan sangat keras, tetapi juga diliputi oleh budi pekerti sangat lemah lembut. Pekan lalu ia masih berada di kesultanan buton, sebelum bertemu dengan para tetua tolaki. Menumpang kapal saudagar bugis, ia merapat diteluk bone. Lalu dari sana ia terus menyisir pantai selatan hingga tiba dipelabuhan Makassar.
-------------“kami akan mengingat anak cucu diseantero lipu’ mongondow, lipu’ u hulontalo, wanua minaesa, dan banua nusa utara, bahwa saudara-saudara kami di seluruh jazirah tana rigalla’ tana ri ‘abbusungi bersetia kata pada perjanjian Sulawesi satu. ------------<<dialog utusan negeri utara dengan tetua negeri selatan, tentang kesepahaman Sulawesi satu>>





Setelah mereka menyusun huruf B dan M ternyata tertemukan zona Bolaang Mongondow. Titik tempat bertemunya corak agraris dan maritim pada satu wilayah. Sebuah rahasia penting terungkap dari rangkaian kata Bitung, buton, bulukumba, bajo, bone, bantaeng, bolaang, bone bolango, banggae, banggai, banggaiba, bonehau, baras, bintauna, bawakaraeng, bambapuang, dengan rangkuman kata M: minahasa, mongondow, manganitu, miangas, Makassar, mandar, manado, makale, malili, massenrengpulu, rupanya terkait dengan sandi huruf BA dan MIM. Ba adalah huruf tentang awal kelahiran sedang MIM adalah kematian. Ini pasangan hidup mati. Langit akhirnya mengerti, bahwa

Sulawesi adalah huruf LAM ALIF TERBALIK.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Janji awan pada Hujan

Aku mencintaimu, bagian mana yang tidak kamu mengerti? biar aku jelaskan disini Aku ingin mencintaimu. ingin mencintaimu Lebih besar ...